Sabtu 07 Oct 2023 14:55 WIB

BMKG: Jatim Saat Ini Memasuki Hari tanpa Bayangan

Kulminasi, fenomena saat Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Andri Saubani
Warga mengamati bayangannya saat terjadi fenomena hari tanpa bayangan di Anjungan Pantai Losari di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/10/2021). Hari tanpa bayangan atau kulminasi merupakan fenomena saat matahari berada di posisi paling tinggi di langit atau tepat berada di atas kepala (titik zenit) sehingga bayangan bertumpuk dengan objeknya. Fenomena tersebut terjadi pada pukul 11.50 WITA di daerah itu.
Foto: ANTARA/Arnas Padda
Warga mengamati bayangannya saat terjadi fenomena hari tanpa bayangan di Anjungan Pantai Losari di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/10/2021). Hari tanpa bayangan atau kulminasi merupakan fenomena saat matahari berada di posisi paling tinggi di langit atau tepat berada di atas kepala (titik zenit) sehingga bayangan bertumpuk dengan objeknya. Fenomena tersebut terjadi pada pukul 11.50 WITA di daerah itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda mengatakan, bahwa sejumlah wilayah di Jawa Timur saat ini memasuki hari tanpa bayangan atau kulminasi. Yakni, fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.

"Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama. Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat 'menghilang', karena bertumpuk dengan benda itu sendiri," ujarnya Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto, Sabtu (7/10/2023). 

Baca Juga

Ia mengatakan, hal itu terjadi karena bidang ekuator bumi atau bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika bidang revolusi bumi. Sehingga posisi matahari dari bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun.

"Hal ini disebut sebagai gerak semu harian matahari," tuturnya.

Ia mengatakan, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa. "Di kota-kota lain, kulminasi utama terjadi saat deklinasi matahari sama dengan lintang kota tersebut," ujarnya.

Teguh mengatakan, saat ini juga terjadi El Nino pada bulan September hingga November yang secara umum El Nino berdampak terhadap penurunan curah hujan di Jawa Timur sebesar lebih dari 40 persen. Akan tetapi, kata dia, ketika memasuki bulan Desember hingga Februari pada umumnya dampak El Nino mempengaruhi penurunan curah hujan Jawa Timur sebesar 1 -20 persen.

"Dampak El Nino sangat bergantung pada kondisi angin gradien yang aktif. Jadi tidak dapat disamakan dampak El Nino pada setiap bulannya," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement