Jumat 06 Oct 2023 09:01 WIB

Prewedding, Duka Bromo, dan Kepedulian Kita

Sejatinya, prewedding dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kenangan yang indah.

Sisa-sisa kebakaran di Bukit Teletubbies, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Sisa-sisa kebakaran di Bukit Teletubbies, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Natalia Endah Hapsari*

Pernikahan adalah peristiwa sakral yang terjadi sekali seumur hidup. Untuk mengenang momen indah itu, muncul keinginan untuk merekam peristiwa itu bahkan sebelum pernikahan tersebut berlangsung. Akhirnya, muncul istilah prewedding

Baca Juga

Sejatinya, prewedding dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kenangan yang indah tentang momen istimewa pasangan sebelum mereka memulai perjalanan hidup bersama sebagai suami dan istri.

Menyusuri jejak sejarah, aksi prewedding dimulai dengan fotografi pernikahan bahkan dimulai pada awal tahun 1840-an. Kendati menggunakan teknologi sederhana, keinginan untuk mengenang momen itu terus dilakoni.

 

Dikutip dari iqphoto.com, ide untuk mengabadikan momen itu kian populer pada masa 'ledakan pernikahan' setelah Perang Dunia Kedua. Dengan menggunakan kamera portabel berbasis film gulung dan lampu flashbulb, para fotografer akan muncul, mengambil gambar pernikahan dan kemudian mencoba menjual foto-foto tersebut kepada calon pengantin. 

Gaya fotografi pernikahan tradisional dengan pose-pose indah yang dibuat di studio atau di lokasi menggunakan pencahayaan berkualitas pun akhirnya dipraktikkan selama lebih dari seratus tahun.  Tak ayal, tradisi prewedding telah menjadi tren di seluruh dunia, dan berbagai budaya melihat konsep ini dengan cara yang berbeda. Beberapa pasangan memilih latar belakang alam terbuka, sementara yang lain mungkin memilih studio foto atau lokasi bersejarah yang unik. Tradisi itu pun terus berlanjut hingga kini.

Sekarang boleh dibilang paket prewedding pun sudah menjadi satu kesatuan dengan prosesi pernikahan itu sendiri. Tentu saja, inti dari seluruh proses panjang itu adalah memastikan kenangan indah pernikahan terekam dengan baik dan mudah untuk diputar kembali.

Namun, apa jadinya jika momen prewedding yang seharusnya indah itu justru berubah menjadi musibah? Tidak hanya menimpa sang calon pengantin, tetapi menjadi malapetaka bagi Indonesia. Bencana itulah yang diderita Area Bukit Teletubbies Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru yang  mengalami kebakaran lahan ini akibat aktivitas pengunjung yang sedang berfoto untuk keperluan prewedding. 

Namun, pengunjung tersebut menggunakan flare alias suar dalam proses pemotretannya sehingga mengakibatkan kebakaran di area tersebut.

Lebih mengenaskan, sempat pula beredar video momen api kecil mulai menyala karena flare atau suar dari sekelompok orang yang tengah melakukan foto prewedding di belakang tulisan "Teletubbies". Di video selanjutnya, api semakin membesar hingga malam hari pada Rabu (6/9/2023).

Alhasil, sepanjang 6-18 September 2023, kawasan wisata Gunung Bromo harus ditutup total akibat kebakaran hutan dan lahan. Areal seluas 504 hektare itu dilaporkan mengalami kerusakan. Mayoritas area yang rusak merupakan kawasan savana.

Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata kebakaran di Bukit Teletubbies itu terjadi karena salah satu dari lima flare asap meletus saat dinyalakan, sehingga mengeluarkan percikan api yang akhirnya membakar rumput kering di padang savana tersebut.

Apa yang diabaikan dari peristiwa ini? Mereka abai dengan lingkungan sekitar. Ada pihak yang tak peduli dengan alam sekeliling. Mereka lalai terhadap kawasan savana yang saat musim kemarau justru didominasi oleh rumput dan dedaunan kering sehingga sangat rawan terbakar. Boleh jadi satu hal yang tak pernah abai untuk diingat adalah bagaimana caranya menghasilkan konsep pemotretan prewedding yang estetik dan elegan meski itu berdampak buruk pada lingkungan.

Ada beberapa alasan mengapa kita harus peduli pada lingkungan karena lingkungan alam merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan kita. Ketika kita tak lagi peduli pada lingkungan, lihatlah apa yang terjadi belakangan ini. Polusi udara merajalela, krisis air ketika musim kemarau, hingga penyakit bermunculan di mana-mana.

Padahal,  Kelangsungan hidup manusia bergantung pada sumber daya alam seperti air bersih, makanan, kayu, dan energi. Jika kita merusak lingkungan, kita mengancam pasokan sumber daya ini.

Setiap spesies dan setiap komponen lingkungan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan dalam ekosistem dapat menyebabkan populasi spesies menurun, kehilangan keanekaragaman hayati, dan masalah lainnya yang dapat dipengaruhi oleh manusia.

Belum lagi terjadi perubahan iklim global yang disebabkan oleh tindakan manusia, seperti polusi, penebangan hutan, dan yang akhirnya berbuntut pada cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, dan banyak masalah lain yang mengancam kehidupan manusia.

Banyak orang percaya bahwa kita memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi Bumi untuk generasi berikutnya. Kita harus menjaga lingkungan agar kita dan generasi berikutnya dapat menikmati keindahan dan sumber dayanya.

Dengan menjaga lingkungan, kita juga menjaga berbagai spesies hewan dan tanaman yang hidup di Bumi.Peduli pada lingkungan bukan hanya masalah etika, tetapi juga masalah praktis dan penting bagi eksistensi manusia dalam jangka panjang. Untuk memastikan bahwa kita dan generasi berikutnya dapat hidup dengan baik di planet ini, sangat penting untuk mengambil tindakan untuk menjaga dan memulihkan lingkungan. Tak sekadar mengutamakan kepentingan diri sendiri demi mewujudkan kenangan indah, namun justru memunculkan bencana dan musibah untuk orang lain.

*Penulis adalah jurnalis Republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement