Kamis 05 Oct 2023 18:01 WIB

SMRC: Deklarasi AMIN di Jawa Timur tidak Punya Efek Ekor Jas

Jawa Tmur disebut basis dari Ketum PKB Muhaimin Iskandar.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) bersama bakal Calon Presiden dari koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan menyapa jurnalis saat tiba di kantor DPP PKB, Jakarta, Senin (11/9/2023). Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Anies Baswedan ke kantor DPP PKB usai dideklarasikan berpasangan dengan Muhaimin iskandar dalam menghadapi Pilpres 2024. Menurut Sekjen PKB Jazilul Fawaid, agenda pertemuan tersebut dalam rangka membahas agenda prioritas untuk pemenangan Pilpres 2024.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) bersama bakal Calon Presiden dari koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan menyapa jurnalis saat tiba di kantor DPP PKB, Jakarta, Senin (11/9/2023). Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Anies Baswedan ke kantor DPP PKB usai dideklarasikan berpasangan dengan Muhaimin iskandar dalam menghadapi Pilpres 2024. Menurut Sekjen PKB Jazilul Fawaid, agenda pertemuan tersebut dalam rangka membahas agenda prioritas untuk pemenangan Pilpres 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Hasil survei nasional September 2023 oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan deklarasi bakal calon presiden dan calon wakil presiden dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) tidak mempunyai efek ekor jas.

"Deklarasi AMIN di Jawa Timur itu tidak punya coat-tail effect, tidak punya efek ekor jas dari deklarasi itu, apakah itu Anies maupun Cak Imin, terhadap partai politik yang mendukung mereka. Dan itu di Jawa Timur yang merupakan basis dari Cak Imin (Muhaimin) sendiri," kata pendiri SMRC Saiful Mujani dalam rilis survei yang dipantau secara daring dari Jakarta, Kamis (5/10/2023).

Baca Juga

Dijelaskan Saiful, deklarasi AMIN di Jawa Timur belum menimbulkan efek positif karena partai politik yang memiliki elektabilitas tertinggi di daerah itu adalah PDI Perjuangan. "Kita melihat bahwa setelah seminggu deklarasi, partai pertama di Jawa Timur masih PDI Perjuangan 22,2 persen, tidak signifikan perbedaannya dengan hasil Pemilu 2019 (19,9 persen)," ujar dia.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dinahkodai Cak Imin menyusul di posisi kedua dengan 17,8 persen suara. Angka itu lebih rendah dari total suara yang diperoleh di Jawa Timur pada Pemilu 2019 (18,5 persen).

 

Di sisi lain, Nasdem selaku partai pengusung Anies bertengger di posisi ketujuh dengan 3,5 persen. Diketahui, Nasdem mendapat 10,3 persen suara pada Pemilu 2019.

"Mungkin, hasil dari Nasdem 2019 tersebut untuk sementara ini bisa jadi mengatakan belum menentukan pilihan, bisa jadi ditarik oleh partai lain. Tapi kalau ditarik oleh partai lain, tidak ada partai lain yang menguat. Oleh karena itu kemungkinan jadi mengambang," tegas dia.

Lebih lanjut, Saiful menjelaskan bahwa tidak terlihatnya efek ekor jas kepada AMIN disebabkan proses pengambilan keputusan dalam penggabungan Anies dan Cak Imin sebagai bakal pasangan calon.

"Karena prosedur atau proses keputusan yang dibuatnya itu tidak cukup bottom up. Mekanisme mendengarkan aspirasi pemilih dan sebagainya itu diabaikan atau kurang dipertimbangkan sebagai faktor yang sangat penting di dalam pembuatan keputusan politik," ujar Saiful.

Berdasarkan survei tersebut, SMRC menyebut AMIN setidaknya memiliki dua tantangan, yakni meyakinkan konstituen PKB sendiri dan meyakinkan pemilih di luar PKB. "Ini sesuatu yang baru yang membutuhkan sosialisasi, argumen, untuk meyakinkan pemilih kenapa keputusan itu dibuat, keputusan pasangan Anies dengan Cak Imin," ucap Saiful.

Populasi survei SMRC ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Jawa Timur yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 180 responden. Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 150 atau 83 persen yang kemudian dianalisis.

Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 8,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen (asumsi simple random sampling). Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih, pada 2-11 September 2023.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement