Jumat 29 Sep 2023 21:12 WIB

Lahan Kering di Bakauheni Terbakar, Diduga Api dari Layangan Baterai

Pemadam kebakaran turun memadamkan api di lahan kering terbakar.

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi lahan terbakar.
Foto: Antara//Auliya Rahman
Ilustrasi lahan terbakar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Lahan berisi tanaman kering terbakar di Dusun Kampung Jering, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, pada Kamis (28/9/2023) malam. Enam jam petugas berhasil memadamkan api yang diduga berasal dari percikan api layangan berbaterai yang tersangkut di kabel listrik.

Keterangan yang diperoleh dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Lampung Selatan, Jumat (28/9/2023), petugas Damkar diturunkan untuk memadamkan api yang terus menjalar  ke berbagai tempat. Api bisa dipadamkan selama enam jam sejak pukul 20.00.

Baca Juga

Kebakaran dibenarkan Kepala Dinas Damkar Lampung Selatan M Sefri Masdian. Namun dia belum bisa menyebutkan api berasal dari dari mana. Diduga api berasal dari puntung rokok dan juga dari layangan yang tersangkut di kabel listrik dan terjadi arus pendek. “Benar, terjadi malam tadi,” katanya.

Berita kebakaran lahan kosong di Bakauheni ini menyebar di media sosial pada Jumat (29/9/2023). Pada musim kemarau ini, lahan terbakar semakin banyak terutama di lahan kosong yang tanamannya kering.

“Itu kejadian semalam pas layanan tersangkut di kabel listrik, baterainya meledak karena kabel listrik. Ledakan apinya jatuh ke bawah yang isi bawahnya rumput di lahan yang sudah kering karena kemarau.

Layangan masih utuh karena layangan posisinya masih di atas tersangkut kabel listrik,” tulis akun FB Suly.

Namun, beberapa warganet juga mencurigai api juga dapat berasal dari pembuangan puntung rokok di lahan yang kering akibat kemarau ini. “Puntung rokok kali, ini musim kemarau harus hati-hati membuang percikan api. Kalau layangan, kayaknya enggak mungkin,” kata akun FB Yuvita Asrie Astuty.

Menurut keterangan warga setempat, permainan layangan menggunakan baterai untuk menghiasi layangan dengan warna-warni lampung marak di masyarakat. Main layangan malam hari pada musim kemarau menjadi pilihan karena layangan dan baterainya tidak akan rusak.

“Kalau musim hujan, tidak mungkin main layangan pakai lampu. Bisa cepat rusak kena air,” kata Syamsuri, warga Bakauheni.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement