Rabu 23 Aug 2023 19:25 WIB

Kemiskinan Ekstrem Tersisa 3,3 Juta, Terkonsentrasi di Indonesia Timur

Intervensi pun dilakukan di provinsi absolut jumlah penduduk miskin tinggi.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Fuji Pratiwi
Warga beraktivitas di kawasan pemukiman padat di bantaran kali Ciliwung, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2022).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga beraktivitas di kawasan pemukiman padat di bantaran kali Ciliwung, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Angka kemiskinan ekstrem di Indonesia terbaru saat ini menyentuh angka 1,12 persen atau menurun 0,62 persen dibandingkan September 2022 di angka 1,72 persen. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) R Nunung Nuryartono mengatakan, jika diuraikan angka kemiskinan ekstrem sekitar 3,3 juta di seluruh wilayah Indonesia.

"Tentu kita bisa melihat ada persentase angka kemiskinan ekstrem yang tinggi ini saudara-saudara kita di wilayah Indonesia Timur, sehingga perlu penanganan yang khusus," ujar Nunung dalam Media Briefing soal update penanganan kemiskinan ekstrem di Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (23/8/2023).

Baca Juga

Namun demikian, Nunung menyebut jumlah penduduk miskin ekstrem di Jawa juga memiliki angka absolut tinggi meskipun persentasenya kecil. Karena itu menurut Nunung, sasaran program intervensi penanganan kemiskinan tidak hanya terfokus pada provinsi yang tingkat kemiskinan ekstremnya tinggi tetapi wilayah yang absolut jumlah penduduk miskin tinggi.

Nunung menguraikan sejumlah program intervensi penanganan ekstrem diantara pengurangan beban kepada kelompok sasaran miskin ekstrem dengan pemberian bantuan mulai dari program keluarga harapan (PKH), subsidi energi dan bantuan lainnya. Selain itu, pemerintah juga menerapkan strategi peningkatan pendapatan kepada kelompok masyarakat miskin ekstrem dengan harapan dapat membuatnya naik kelas.

Lalu ketiga, pemerintah menerapkan strategi pengurangan kantong-kantong kemiskinan dengan meningkatkan rumah layak huni, pemberian akses terhadap air bersih dan sanitasi.

"Jadi dengan tiga strategi ini kita melihat efektivitas program yang dijalankan konvergensi komplimentary dan juga interoperobilitas antar data yang ada itu memberikan hasil yg signifikan. Nah itu kira kira berapa hal dan kami optimistis insya allah di 2024 ya mendekati nol, nol koma sekian lah tetapi di bawah ke arah sana," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement