Selasa 22 Aug 2023 05:16 WIB

Kepahlawanan dan Kemeriahan 17 Agustus

Kepahlawanan lahir dari keberanian, pengorbanan dan integritas moral.

Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Jawa Timur
Foto: nurul jadid
Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Jawa Timur

 

OLEH ABD HAMID WAHID; Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton

Baca Juga

 

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Di tengah kemeriahan merayakan Hari Kemerdekaan Republika Indonesia ke-78, kita perlu mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawanan yang telah mengantarkan bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Mereka telah mengorbankan jiwa dan raga untuk membebaskan rakyat dari penjajahan dan penindasan. 

Kepahlawanan lahir dari keberanian, pengorbanan dan integritas moral dalam menghadapi tekanan untuk mewujudkan kebaikan bersama dan membela nilai-nilai yang diyakini sebagai kebenaran. Atas dasar keyakinan inilah, surah At-Tawbah: 20 yang berbunyi orang-orang yang beriman dan berhijarah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya menurut Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenungan, tidak hanya dibacakan, tetapi juga diamalkan. 

Dulu, KH Zaini Mun’im harus meninggalkan (hijrah) dari tanah kelahirannya Pamekasan ke Paiton untuk mengelak dari pengejaran Belanda. Namun setelah kemerdekaan diraih, ia memilih berjuang untuk membebaskan warga dari kebodohan dengan mendirikan lembaga pendidikan agama dan umum, Nurul Jadid. Tidak hanya itu, institusi tersebut juga mendorong partisipasi warga sekitar untuk memajukan tanah pertanian. Pendek kata, tuntutan untuk mewujudkan kemerdekaan merupakan panggilan yang akan senantiasa berlangsung dengan tantangan yang berbeda dan latar belakang yang kontekstual.

Kini, institusi yang didirikan di atas telah berkembang, dari pengajaran-pembelajaran, ekonomi, dan pengembangan sosial dan dakwah. Dengan  demikian generasi baru tetap belajar untuk meneguhkan komitmen dan pada waktu yang sama bahwa kini kebebasan tidak lagi tidak dibelenggu oleh penjajah, tetapi ketergantungan pada sesuatu yang harus dibeli dan ketidakpercayaan pada khazanah sendiri. 

Semangat ini juga ditunjukkan oleh para santri yang mengikuti KKN MBKM mandiri di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Setelah rombongan pertama berhasil melalui kegiatan sosial di daerah terpencil dan berbuah buku berjudul Tabuhan Rebana di Pulau Tomia: Catatan Perjalanan Mahasiswa MBKM Santri UNUJA di Wakatobi Sulawesi Tenggara. Di pulau kecil inilah, 19 santri tersebut berkhidmat dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan setempat. 

Untuk mencapai daerah tersebut, mereka harus menempuh perjalanan tiga hari tiga malam. Menjelang Idul Adha, mereka sedang menunggu kapal ferry untuk membawa rombongan dari Baubau ke Tomia. Tatkala banyak keluarga merayakan kebersamaan untuk berlebaran haji, mereka menjalankan amanah sebagai mahasiswa yang hendak mengamalkan ilmu yang diperoleh di menara gading di kehidupan nyata. Tantangan lain adalah musim hujan membuat langit gelap dan gemuruh ombak menghantam badan kapal. Selaksa doa dipanjatkan agar keselamatan diberikan. Dalam keadaan ini, kesadaran spiritual seseorang mendapatkan ruang untuk diuji. Hidup dan mati itu adalah dua pilihan yang tidak bisa diingkari, sama dengan pekikan merdeka atau mati dahulu kala. 

Di Tomia, mereka harus menghadapi tantangan lain, yakni keterbatasan air bersih dan akses ke kota yang tidak mudah karena harus menggunakan perahu dengan jarak tempuh yang jauh. Namun, jangkar telah dilempar dan kapal telah berlabuh, maka semangat pengabdian harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata di tengah masyarakat. Dengan mengenalkan kesenian hadrah, masyarakat bisa menghayati agama secara estetis. Para santri berjuang untuk menjalankan kehidupan keseharian dengan keriangan. 

Akhirnya, seperti kata Haliana, bupati Wakatobi, kita bisa menemukan Indonesia di sini. Untuk itu, perjuangan tidak lagi berhenti pada upacara dan pekikan merdeka, tetapi seluruh pihak bisa bekerjasama untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga. Kita memerlukan banyak pahlawan untuk mengisi kemerdekaan, meskipun kadang tidak didendangkan (Unsong heroes).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement