Rabu 19 Jul 2023 22:54 WIB

Masyarakat Pakuhaji Bersama Gardu Ganjar Banten Sambut Tahun Baru Islam dengan Gema Dzikir

Ini merupakan waktu yang baik bagi umat Muslim untuk memanjatkan doa.

Acara dzikir dan doa bersama di Kampung Jebatan Papan, Desa Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten.
Foto: Dok. GGB
Acara dzikir dan doa bersama di Kampung Jebatan Papan, Desa Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Kelompok relawan Gerakan Rakyat Desa Untuk (Gardu) Ganjar Banten bersinergi dengan warga menggelar acara dzikir dan doa bersama di Kampung Jebatan Papan, Desa Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Kegiatan ini dilakukan untuk menyambut datangnya Bulan Muharram atau tahun baru Islam 1445 Hijriah. Bertajuk 'Gema Dzikir Menyambut 1 Muharram', kegiatan ini diikuti ribuan warga, serta kiai dan ulama di Banten. 

Dewan Penasehat Gardu Ganjar, Abah Elang Mangkubumi mengatakan, dirinya berharap agar kegiatan ini bisa memberikan keberkahan untuk Bangsa Indonesia. 

Baca Juga

"Tujuannya adalah bagaimana berdoa agar masyarakat sekitarnya mendapat rahmat dan barakah, dan tentunya dimurahkan rezeki, terhindar dari penyakit entah itu lahir dan batin," ujar Abah Elang, seperti dinukil pada Rabu (19/7/2023). 

Pimpinan Padepokan Bumi Alit Padjajaran tersebut menjelaskan bahwa momen pergantian tahun Hijriah ini merupakan waktu yang baik bagi umat Muslim untuk memanjatkan doa. 

 

"Kami ingin berkontribusi terhadap bangsa dan negara, bahwa selawat yang kita lakukan hari ini, mendoakan Indonesia agar jadi negara yang lebih kuat, negara yang dapat kita banggakan di mata dunia" kata dia.

Salah satu doa yang dipanjatkan Abah Elang adalah agar masyarakat tetap menjaga kondusifitas jelas pemilu tahun 2024. Abah Elang berharap agar Indonesia bisa mendapat pemimpin yang humanis dan mau datang menyapa masyarakat kecil. 

"Abah dan masyarakat Provinsi Banten, khususnya di Kecamatan Pakuhaji, pasti akan berharap sosok pemimpin yang mengerti tentang kondisi masyarakatnya, sosok pemimpin yang mau menyapa masyarakat dengan humanis dan tidak arogan. Tentunya abah berharap Mas Ganjar mampu menjadi pemimpin yang didoakan," harapnya. 

Sementara itu, Ketua Umum Gardu Ganjar, Ahmad Wahyudin Nahsyar mengatakan bahwa antusiasme masyarakat sangat luar biasa dalam kegiatan tersebut. Kedatangan tim Gardu Ganjar juga mendapat sambutan hangat. 

"Alhamdulillah hari ini kami bisa bersilaturahmi beberapa tokoh kiai besar di Kabupaten Tangerang, di wilayah Pakuhaji. Alhamdulillah kami diterima dengan baik, dan mereka ikut serta mendoakan sosok Ganjar Pranowo untuk pilpres 2024 nanti," kata Wahyudin. 

Dalam sela acara tersebut, Abah Ganjar bersama tim Gardu Ganjar juga menyampaikan komitmennya untuk membantu pembangunan salah satu masjid yang ada di Pakuhaji. 

Ini menjadi langkah Gardu Ganjar untuk menunjukkan komitmen programnya yang ingin membantu masyarakat di Provinsi Banten. 

Selain itu, Wahyudin menuturkan pihaknya akan kembali hadir dalam aksi bermanfaat lain yang akan menyasar berbagai segmen masyarakat. 

"Canvassing kami tentunya akan ada ke nelayan, petani, pedagang, pegiat ekonomi masyarakat, pokoknya semua aspek akan kami sambangi. Kami turun ke bawah untuk mendengarkan harapan mereka nanti di 2024 ketika Pak Ganjar menjadi presiden," kata dia. 

Adapun, pada momen tahun baru Islam ini, Ganjar bertemu para relawan pendukung dalam agenda Silaturahmi 1 Muharram 1445H. Ganjar bersama para relawan, serentak menggunakan kemeja dengan motif garis hitam dan putih. Kemudian, Ganjar memberikan pidato politik sekitar 20 menit, dihadapan ribuan relawan dari berbagai organisasi relawan.

Ganjar mengungkapkan desain baju tersebut diberikan Jokowi saat makan siang bersama, beberapa waktu lalu.

"Beliau menyampaikan selembar kertas kepada saya. Pak Ganjar, mungkin ini bagus. Saya lihat, saya bolak, saya balik, apa yang bagus itu adalah baju yang saya pakai ini," kata dia.

Menurut Ganjar, telah terjadi perubahan besar dalam lanskap politik nasional di mana nama relawan kemudian diperhitungkan dalam sistem politik Indonesia. "Setidaknya dua kali pemilu, ternyata relawan sangat menentukan," ujarnya, demikian dilansir dari Antara

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement