Selasa 11 Jul 2023 18:42 WIB

Hubungan Cina-Indonesia Semakin Erat, Studi Sinologi Semakin Dibutuhkan

Ahli sinologi semakin mendapatkan tempat untuk menguatkan hubungan cina-RI

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Erdy Nasrul
Tembok raksasa Cina. simbol kemajuan peradaban Cina  (ilustrasi)
Tembok raksasa Cina. simbol kemajuan peradaban Cina (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar purna bakti studi Cina dari Universitas Indonesia (UI) Abdullah Dhahana mengungkapkan tantangan yang dihadapi studi Tiongkok atau sinologi. Padahal sinologi menurutnya penting untuk memahami negara Cina. 

Dhahana menyebut perkembangan terkini di dalam maupun luar negeri membawa dampak positif bagi sinologi di Indonesia. Pada satu sisi, iklim demokrasi yang makin terbentuk di era reformasi ini membawa kebebasan bagi dilaksanakannya kajian Cina yang semasa periode Orde Baru diawasi secara ketat pemerintah. 

Baca Juga

"Di sisi lain, datangnya era yang disebut sebagai era kebangkitan Cina dan meningkatnya hubungan antara Indonesia dan Cina membuat studi sinologi makin dibutuhkan," kata Dhahana dalam keterangan pers pada Selasa (11/7/2023). 

Namun Dahana menyayangkan akhir-akhir ini terjadi fenomena yang cenderung melemahkan sinologi. Hal ini terjadi justru seiring dengan era kebangkitan Tiongkok. 

"Kini makin banyak jurusan yang menamakan diri jurusan atau program studi Cina, namun hanya menitikberatkan pada pengajaran bahasa Mandarin," ujar Dhahana. 

Dahana juga prihatin dengan kecenderungan sebagian pengamat yang kehilangan sikap kritis dalam melakukan kajian terhadap Tiongkok. 

"Padahal penting bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif tentang Cina, yang diperoleh melalui proses belajar yang kritis," ujar Dahana.  

Sedangkan profesor sinologi UI Hermina Sutami mengamati sinologi saat ini menghadapi banyak tantangan. Salah satunya bagaimana mempelajari bahasa Mandarin sesuai dengan fungsi mempelajari bahasa asing.

"Yaitu sebagai alat komunikasi dengan bangsa lain, mempercepat proses pembangunan bangsa dan negara Indonesia, serta memanfaatkan ilmu dan teknologi negara asing yang bahasanya dipelajari dalam menghadapi persaingan bebas," ujar Hermina. 

Tantangan lainnya menurut Hermina adalah mengembangkan sinologi guna memahami negara Tiongkok dari berbagai bidang ilmu. Tujuannya agar terjalin hubungan harmonis antara Indonesia dengan Tiongkok. 

"Keterkaitan sinologi dan upaya agar terjalin hubungan harmonis antar orang Indonesia keturunan Tionghoa dan Non Tionghoa di Indonesia merupakan tantangan yang masih perlu dihadapi," ucap Hermina. 

Sementara itu, Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto menekankan pentingnya kesetaraan dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok. Kesetaraan itu, menurutnya dapat dicapai antara lain dengan terus memperoleh pemahaman yang obyektif dan kritis terhadap Tiongkok. 

Johanes juga mendorong agar semakin banyak pelajar dan kaum terdidik di Indonesia mengembangkan kajian kritis terhadap Tiongkok. 

"Harapan kami agar baik orang Cina maupun non Tionghoa semakin berminat mempelajari sinologi, sebuah kajian akademik yang menjadikan sejarah, sosial, politik, ekonomi, dan perilaku hubungan internasional Cina sebagai obyek studinya," ucap Johanes. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement