Jumat 30 Jun 2023 09:45 WIB

Potensi Rp 24,5 Triliun Nilai Kurban Hingga Perbaikan Gizi Kelas Bawah

Potensi ekonomi qurban bisa mencapai Rp 24,5 triliun.

Idul Adha menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Foto ilustrasi
Foto: Edi Yusuf/Republika
Idul Adha menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Foto ilustrasi

Oleh : Ichsan Emrald Alamsyah, Redaktur Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Umat muslim seluruh dunia, terkhusus Indonesia, baru saja merayakan Idul Adha 1444 Hijriyaah. Memang tidak sesukacita perayaan Idul Fitri, tetapi sebenarnya Idul Adha menyimpan potensi luar biasa dalam perayaannya.

Saat Idul Adha, yang umumnya dirayakan secara sederhana paling banter membakar satai kambing, justru menghasilkan perputaran uang produktif yang luar biasa. Pantaslah masyarakat Indonesia disebut warga negara paling dermawan.

Alasannya, dalam Idul Adha, potensi ekonomi qurban bisa mencapai Rp 24,5 triliun berdasarkan riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS). Dana tersebut, masih dari data IDEAS, berasal dari 2,08 juta keluarga Muslim berdaya beli tinggi yang menjadi shahibul qurban.

Kebutuhan hewan qurban terbesar adalah kambing-domba sekitar 1,23 juta ekor, sedangkan sapi-kerbau sekitar 505 ribu ekor. Dengan asumsi berat kambing-domba antara 20-80 kg dengan berat karkas 41 persen serta berat sapi-kerbau antara 250-750 kg dengan berat karkas 57 persen, maka potensi ekonomi kurban 2023 dari sekitar 1,74 juta hewan ternak ini setara dengan 103,0 ribu ton daging.

 

Sehingga pantaslah Idul Adha, dijadikan hari 'Pesta Daging' bagi kaum mustahik. Hal itu lantaran masyarakat miskin atau mustahik bisa mengonsumsi daging dalam jumlah besar.

Hal yang tampaknya, berdasarkan data, sulit mereka gapai di hari-hari lain. Data IDEAS mengungkap, Pada 2022, rata-rata penduduk di persentase tertinggi (1 persen kelas terkaya) mengonsumsi 5,31 kg daging kambing dan sapi per kapita per tahun. Angka ini 294 kali lebih tinggi dari rata-rata penduduk di persentase terendah (satu persen kelas termiskin) yang hanya mengonsumsi 0,02 kg daging per kapita per tahun.

Anda bayangkan di hari-hari selain Idul Adha, masyarakat miskin, khususnya kelas termiskin memakan daging bahkan tidak mencapai 1 kg dalam setahun.

Sehingga selama masa kurban, ada peluang besar untuk menurunkan ketimpangan konsumsi daging antara si kaya dan si miskin. Hal ini karena memang sesuai syariat, distribusi daging diberikan kepada masyarakat dengan konsumsi daging terendah.

Bila saja ditarget secara sempurna, menurut data IDEAS, sebenarnya ada 74,2 juta mustahik prioritas yang layak mendapatkan daging. Mereka terdiri atas 5,2 juta mustahik miskin ekstrem (dibawah 0,8 garis kemiskinan/GK), 11,4 juta mustahik miskin (0,8 – 1,0 GK), 16,5 juta mustahik hampir miskin (1,0-1,2 GK) dan 41,1 juta mustahik rentan miskin (1,2-1,6 GK).

Berdasarkan simulasi IDEAS, kesenjangan konsumsi daging yang diukur dalam gini rasio berpotensi turun signifikan, dari 0,61 menjadi 0,38 bila memang dibagi secara merata dan sempurna.

Pembagian merata

Menurut penulis, hal ini bisa saja terjadi bila memang pembagian dilakukan secara profesional oleh lembaga pengelola daging kurban. Panitia kurban di tiap-tiap masjid perlu benar-benar mendata warga miskin di sekitar wilayahnya.

Di masa Idul Adha, misalnya, kita mengetahui ada ribuan masjid di seluruh Indonesia yang menggelar pemotongan hewan, baik secara mandiri atau menggandeng Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Maka panitia sebenarnya bisa saja jemput pola dengan meminta data warga miskin kepada kelurahan setempat, atau seharusnya, pemda melalui tangan-tangan kelurahan/desa bisa membagikan data rakyat miskin kepada panitia kurban.

Selain itu, panitia kurban juga bisa menggandeng lembaga besar, seperti Baznas, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat, untuk pengelolaan daging kurban. Baznas dan Rumah Zakat memiliki program pengelolaan daging kurban yang diolah menjadi kornet dan dibagikan ke wilayah 3T.

Diharapkan lewat lembaga-lembaga ini, daging kurban benar-benar diterima mereka yang membutuhkan. Atau berdasarkan data IDEAS, mereka yang masuk dalam kondisi miskin ekstrem. Di mana bahkan dalam setahun tidak sampai satu kilogram daging yang bisa mereka konsumsi.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement