Selasa 04 Apr 2023 01:31 WIB

Hasto: Penataan Kampus Harus Terintegrasi dengan Koridor Strategis Pembangunan

Pentingnya penataan kampus dan universitas di Indonesia.

Pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Hasto Kristiyanto
Foto: istimewa
Pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Hasto Kristiyanto

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Hasto Kristiyanto, mengingatkan betapa pentingnya penataan kampus dan universitas di Indonesia demi memastikan Indonesia maju dan menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa.

Hal itu diungkap Hasto dalam orasi ilmiah di Peringatan Dies Natalis Universitas Krisna Dwipayana (Unkris) kr-71 di Jakarta, Senin (3/4/2023) petang. Hasto diberi kesempatan menyampaikan orasi ilmiah bertema geopolitik Soekarno yang merupakan basil riset disertasi doktoralnya.

Baca Juga

Hasto mengatakan Unkris adalah salah satu pilar ilmu pengetahuan yang penting bagi Indonesia. Tercatat Presiden pertama RI Soekarno pernah mengampaikan orasi ilmiah pada lustrum pertama di kampus tersebut. 

"Teori geopolitik Soekarno pada dasarnya berbicara tentang bagaimana membangun kepemimpinan Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan, agar dapat menjadi aktor penting di dalam konstelasi geopolitik," kata Hasto dalam keterangan persnya.

Dilanjutkannya, teori geopolitik Soekarno mengenai kepemimpinan Indonesia di dunia amat berbeda dengan teori geopolitik ala Barat. Jika teori Barat tentang geopolitik adalah bergerak demi memperluas wilayah yang kerap berwujud upaya penaklukan; maka geopolitik Indonesia adalah sebuah negara menjadi kuat justru demi memastikan perdamaian dunia dan kemerdekaan tiap bangsa/negara.

Dalam teori geopolitik Soekarno, kata Hasto, negara yang kuat demikian hanya bisa terwujud jika, salah satunya, negara itu memiliki ilmu pengetahuan dan riset yang kuat. Dan institusi pendidikan itu harus ditata terintegrasi dengan koridor strategis pembangunan.

“Pemikiran geopolitik Soekarno memerlukan syarat utama, penataan kampus yang terintegrasi dengan koridor strategis pembangunan atas cara pandang geopolitik,” urai Hasto.

“Jadi Unkris misalnya, memiliki kekuatan dalam hukum dan ekonomi. Maka bagaimana membangun kekuatan nasional Indonesia berdasarkan dua aspek ini, sehingga komoditas strategis seperti CPO, karet, kopi dan lain-lain, benar-benar menjadi national power karena ditopang oleh para ahli hukum internasional yang dihasilkan Unkris,” kata Hasto.

Atas dasar hal tersebut, lanjut Hasto, maka kampus harus menjadi pusat penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan mendorong riset-inovasi terapan.

“Agar Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, setidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan lain-lain,” tegas Hasto.

Insitusi pendidikan dan kampus Indonesia harus terlibat mewujudkan Indonesia menjadi sebagai bangsa berdaulat dan berdikari. Contoh sederhana, ketergantungan terhadap pangan, berupa impor daging, kedelai, gandum, jagung, gula, harus segera diatasi. 

“Australia misalnya, dalam perspektif pertahanan menempatkan Indonesia sebagai ancaman dari Utara, namun setiap tahun, Indonesia mengimpor sapi dan daging sapi sebesar Rp. 37 Triliun. Ini kan ironis. Karena itulah harus dibangun kerjasama antar kedua negara bertetangga agar keduanya mendapat manfaat secara berkeadilan”, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Hasto bahkan sempat menyerahkan beberapa buah buku, termasuk buku Mustika Rasa yang dibuat di era Presiden Soekarno. Menurut Hasto, buku itu menjadi salah satu contoh bagaimana upaya agar Indonesia membangun hegemoni di bidang pangan. “Ini kami persembahkan untuk Perpustakaan Unkris,” ujar Hasto.

Ketua pembina Yayasan Unkris Gayus Lumbuun mengatakan kehadiran Hasto membicarakan topik geopolitik berjilai sangat penting. Pada dasarnya, menurut Gayus, geopolitik merupakan rangkuman tiga hal. Yakni bagaimana mempelajari kehidupan individu, bagaimana sosial, dan bagaimana ilmu pemerintahan.

“Kita motivasi semua organ universitas agar mengenal bangsa kita baik secara individu, sosial, maupun pemerintahannya,” ujar Gayus.

Ketua panitia Dies Natalis Susetya Herawati menjelaskan perayaan itu bertema “harmoni dalam keberagaman”. Tema ini demi mendorong semangat agar seluruh takyat Indonesia benar-benar memahami dan menghidupi “harmoni dalam keberagaman”, yang juga diamanatkan oleh dasar negara, Pancasila.

“Dies Natalies ini mengingatkan kita bahwa keragaman adalah sumber kekuatan yang perlu diperkuat untuk mencapai kejayaan. Saat berefleksi dan kita bertama apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkannya,” kata Susetya.

Di acara itu, hadir sivitas akademika Unkris yang hadir secara fisik ataupun secara daring, di bawah pimpinan Rektor Unkris Ayub Muktiono.

Sebelum kuliah umum, dilakukan juga penandatanganan prasasti pendiri Universitas Krisna Dwipayana.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement