Ahad 26 Feb 2023 15:54 WIB

Pengolahan Sampah Organik demi Mencapai Target Zero Waste

Menteri LHK ajak masyarakat Indonesia mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Erik Purnama Putra
 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar .
Foto: EPA-EFE/MADE NAGI
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan acara Compost Day #KomposSatuNegeri 'Bincang Asik-Kompos Itu Mudah dan Bermanfaat' di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Ahad (26/2/2023).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar mengatakan, pengelolaan sampah organik, khususnya sampah sisa makanan adalah sangat penting. Dia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan perhatian dalam upaya mencapai target zero waste (bebas sampah).

Siti pun ingin mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Dia memaparkan data, KLHK pada 2022 mencatat timbunan sampah di Indonesia mencapai 68,7 juta ton per tahun.

"Ubah mindset kita dalam mengelola sampah khususnya sampah organik dari sisa makanan. Sudah saatnya sekarang kita meninggalkan pendekatan atau cara lama, kumpul, angkut, buang yang menitikberatkan pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA)," katanya di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Ahad.

 

"Komposisinya didominasi oleh sampah organik sisa makanan sebesar 41,27 persen. Lalu, kurang lebih 38,20 persen bersumber dari sampah rumah tangga. Selain itu, sampah organik juga merupakan kontributor terbesar dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca, jika tidak terkelola dengan baik," kata Siti menambahkan.

Selain itu, sebagai bentuk komitmen kepada dunia dalam pengendalian perubahan iklim. pemerintah Indonesia telah menyampaikan penguatan komitmen untuk kontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca pada September 2022. Angka itu meliputi pengurangan efek gas emisi rumah kaca sektor limbah 2030 Indonesia.

"Yaitu penurunan gas emisi rumah kaca 40 juta ton karbondioksida equivalent (CO2e) dengan upaya sendiri atau 43,5 ton Co2e dengan kerja sama teknik internasional," ujar Siti.

Dia berharap, masyarakat Indonesia dapat memilah dan mengolah sampah organik yang berasal dari rumah tangga secara mandiri. "Jika seluruh masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahun secara mandiri di rumah. Maka, kira-kira ada 10,92 juta ton sampah organik tidak dibawa ke TPA dan juga dapat menurunkan gas emisi rumah kaca sebesar 6,8 juta ton Co2e," kata Siti.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Deputi Gubernur DKI Bidang Budaya dan Pariwisata Marullah Matali, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati, serta anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Indonesia Maju.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement