Sabtu 11 Feb 2023 14:13 WIB

Awan Berbentuk Seperti UFO di Langit Jayapura Dikaitkan Gempa, Ini Penjelasan BMKG

BMKG mencatat gempa terjadi di Jayapura selama sebulan terakhir.

 Foto yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menunjukkan rumah yang rusak akibat gempa di Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (9/2/2023). Gempa dangkal mengguncang provinsi paling timur Papua pada Kamis, menewaskan sejumlah orang.
Foto: BNPB via AP
Foto yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menunjukkan rumah yang rusak akibat gempa di Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (9/2/2023). Gempa dangkal mengguncang provinsi paling timur Papua pada Kamis, menewaskan sejumlah orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- BMKG Wilayah V Jayapura nyatakan awan yang berbentuk seperti UFO di langit Kota dan Kabupaten Jayapura yang dikaitkan dengan kejadian gempa bumi yang baru-baru ini terjadi dikenal dengan nama awan Lenticularis. Kepala BMKG Yustus Rumakiek di Jayapura, Sabtu (11/2/2023) mengatakan, awan Lenticularis berbentuk mirip seperti lensa atau piring yang terbentuk karena angin yang berembus sejajar dengan permukaan bumi namun mendapat hambatan dari objek tertentu seperti pegunungan sehingga membuat arus udara bergerak naik secara vertikal.

Jika udara naik dan mengandung banyak uap air serta bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air tersebut akan mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung. Awan ini mengindikasikan adanya aliran udara tidak beraturan (turbulensi) yang kuat di lapisan atmosfer sehingga sangat berbahaya bagi penerbangan.

Baca Juga

"Awan ini terbentuk murni fenomena meteorologis (cuaca) dan tidak ada kaitannya dengan gempa bumi seperti yang beredar di masyarakat saat ini, fenomena baru muncul sekali ini saja di wilayah Jayapura," jelas Rumakiek.

Sebelumnya, BMKG menyatakan sejak 2 Januari hingga Sabtu (11/2/2023) pukul 09:15 WIT telah terjadi gempa bumi di wilayah sekitar Kota Jayapura sebanyak 1.174 kali dengan 172 kejadian di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement