Kamis 09 Feb 2023 11:58 WIB

Gubernur Edy Rahmayadi Titip Pers Tulis Hal Positif Tentang Sumut

Sebaiknya media bisa menggali potensi budaya, pariwisaya, hingga kuliner di Sumut.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Erik Purnama Putra
Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Letjen (Purn) Edy Rahmayadi.
Foto: Dok Pemkot Sumut
Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Letjen (Purn) Edy Rahmayadi.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Letjen (Purn) Edy Rahmayadi mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) 2023 di Kota Medan, Kamis (9/2/2023). Dalam kesempatan itu, ia mengucapkan selamat pada semua pihak yang merayakan peringatan hari jadi awak media.

Pada acara tahunan yang kali ini diadakan di Ibu Kota Sumut, Edy berharap agar awak media untuk menulis hal-hal yang baik menyoal Provinsi Sumut. "Saya titip pada insan pers untuk dapat menulis hal-hal yang positif tentang Sumatrra Utara," kata Edy saat ditemui di Kota Medan, Kamis.

Selain pentingnya citra Sumut bagi iklim investasi, menurut Edy, sebaiknya media juga bisa menggali potensi budaya, pariwisaya, hingga kuliner yang ada di wilayahnya. Dia menuturkan, harapan itu juga sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi untuk meningkatkan investasi di daerah. "Salah satunya investasi dengan produk jurnalistik," ucap Edy.

Menyoal HPN 2023, mantan Pangkostrad tersebut berharap, pers ke depannya bisa terus menjaga kebenaran dan memaknai kebebasan sebagai nilai baik dan berguna terhadap masyarakat. "Sekarang ada benarnya, bahwa kenyataan bisa dibentuk dan kebenaran bisa dikonstruksi oleh media. Jadi wartawan harus akurat dan berimbang demi melayani kemanusiaan," kata Edy.

 

Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, mengatakan, kemerdekaan pers yang sudah ada mengkonfirmasi jika suatu bangsa tidak akan dan tidak boleh berhenti meningkatkan kualitasnya. Meski demikian, kata dia, perlu ada suasana dan kondisi yang kondusif.

"Dari hasil survei AJI, kami masih kerap menemukan banyak kekerasan yang dialami insan pers. Sekitar 88.9 persen jurnalis perempuan mengalami ancaman kekerasan berbasis gender saat di lapangan maupun kantor," kata Ninik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement