Senin 09 Jan 2023 17:41 WIB

Dinkes Tasikmalaya akan Pantau Kondisi Korban Keracunan Chiki Ngebul

Dinkes Tasikmalaya belum dapat laporan korban masih alami gejala setelah keracunan

Rep: Bayu Adji P/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Kepala Bidang Pengawasan Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Reti Zia Dewi. Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya akan terus melakukan pemantauan terkait kondisi korban dugaan keracunan jajanan chiki ngebul. Pasalnya, selama ini tidak ada laporan korban masih mengalami gejala setelah keracunan.
Foto: Bayu Adji P/Republika
Kepala Bidang Pengawasan Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Reti Zia Dewi. Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya akan terus melakukan pemantauan terkait kondisi korban dugaan keracunan jajanan chiki ngebul. Pasalnya, selama ini tidak ada laporan korban masih mengalami gejala setelah keracunan.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya akan terus melakukan pemantauan terkait kondisi korban dugaan keracunan jajanan chiki ngebul. Pasalnya, selama ini tidak ada laporan korban masih mengalami gejala setelah keracunan.

Kepala Bidang Pengawasan Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Reti Zia Dewi, mengeklaim selama ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap korban. Menurut dia, para korban kondisinya telah kembali sehat.

"Kondisinya sekarang, para korban kami terus pantau bersama puskesmas. Alhamdulillah tidak ada gejala dan sudah sehat semua," kata dia, Senin (9/1/2023).

Ia mengatakan, kejadian dugaan keracunan itu terjadi pada 15 November 2022 pagi. Ketika itu, terdapat sejumlah siswa di SDN Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap jajanan di lingkungan sekolah mereka.

Menurut Reti, tim dari puskesmas langsung melakukan peninjauan ke tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil peninjauan itu, terdapat 24 orang yang memakan jajanan chiki ngebul tersebut. Sebanyak tujuh orang harus dilarikan ke puskesmas, dan satu orang di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama (RS SMC). Sementara sisanya tidak mengalami gejala. 

Reti menjelaskan, satu orang yang dirujuk ke RS SMC itu hanya menjalani observasi, lantaran mengalami gejala mual dan muntah. Namun, setelah tiga jam, korban diperbolehkan pulang.

Setelah itu, menurut dia, tak ada laporan lanjutan. Kendati demikian, tim dari Puskesmas Leuwisari disebut terus melakukan pemantauan terkait kondisi korban.

Ihwal adanya gejala kembung yang masih dialami salah satu korban, Reti mengaku akan melakukan peninjauan kembali. "Akan kami lihat ulang. Karena ini sudah tiga bulan, kalau dari ilmu kedokteran, saya rasa sudah tidaknada pengaruh zat. Saya rasa itu ada masalah kesehatan lain. Kami akan pantau terus dengan puskesmas setempat," kata dia.

Sebelumnya, salah satu orang tua korban, Wiwin (30 tahun), mengatakan, kondisi anaknya saat ini sudah kembali normal. Berdasarkan pantauan Republika, anaknya juga banyak tertawa dan bercanda dengan ibu dan saudaranya yang lain.

Namun, menurut Wiwin, terkadang anaknya masih suka sakit perut dan kembung. Wiwin tak tahu sebabnya. Padahal, sebelumnya peristiwa keracunan, anaknya tak pernah seperti itu.

"Setelah kejadian itu, masih suka kembung, seperti masuk angin. Sama saya dikasih Fresh Care (minyak angin)," kata dia saat didatangi ke rumahnya di Kecamatan Leuwisari.

Wiwin mengaku belum pernah lagi membawa anaknya ke dokter untuk memeriksakan kondisinya. Sebab, ia menduga anaknya hanya masuk angin biasa.

Namun, lantaran belakang kasus keracunan ciki ngebul kembali ramai, Wiwin menjadi khawatir. "Maunya sih diperiksa kondisi anak saya untuk memastikan tidak apa-apa," ujar ibu dua anak itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement