Sabtu 17 Dec 2022 14:43 WIB

Pemkot Pariaman Fokus Tangani 588 Anak Berisiko Stunting pada 2023

Pada tahun ini, Pemkot Pariaman menurunkan angka stunting 20,3 persen.

Pemerintah Kota Pariaman, Sumatra Barat, memfokuskan menangani 588 anak berisiko stunting pada 2023. (ilustrasi)
Foto: Republika/Mardiah
Pemerintah Kota Pariaman, Sumatra Barat, memfokuskan menangani 588 anak berisiko stunting pada 2023. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PARIAMAN -- Pemerintah Kota Pariaman, Sumatra Barat, memfokuskan menangani 588 anak berisiko stunting pada 2023. Ada sekitar 6.356 anak usia bawah lima tahun (Balita) yang ada di daerah itu.

"Itu data kondisi di bulan November. Tapi datanya dinamis bisa berubah, namun ini menjadi target penanganan kami pada 2023," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Pariaman Gusniyetti Zaunit di Pariaman, Sabtu (17/12/2022).

Baca Juga

Dia mengatakan, pada Januari 2023 Pemkot Pariaman hingga tingkat desa dan kelurahan akan menyelesaikan permasalahan stunting di daerah itu di masing-masing desa dan kelurahan berdasarkan penyebabnya. Meskipun aksi tersebut dilaksanakan pada 2023 namun, lanjutnya Dinas Kesehatan Pariaman sudah memberikan makanan tambahan yang penyaluran kepada balita melalui Puskesmas yang ada di daerah itu.

Dia menyebutkan pada tahun ini pihaknya berhasil menurunkan angka stunting di Pariaman dari 20,3 persen pada 2021 berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan RI menjadi 16,8 persen pada 2022.

Dia menyampaikan meskipun terjadi penurunan namun dari hasil penanganan pihaknya selama satu tahun ini diketahui penyebab terbesar kasus stunting di Pariaman disebabkan oleh pola asuh yang salah atau tidak memberikan nutrisi yang baik pada anak.

"Anak lebih cenderung diberikan makanan cepat saji, jadi tidak memperhatikan makanan beragam dan seimbang untuk anak," kata dia.

Oleh karena itu, lanjutnya dalam waktu dekat pihaknya akan melaksanakan kampanye besar-besaran guna memberikan pemahaman terhadap orang tua. Pihak yang pertama yang menjadi sasaran kampanye tersebut yaitu aparatur sipil negara.

Setelah pola asuh, lanjutnya stunting di Pariaman disebabkan oleh kemiskinan dan lingkungan atau sanitasi yang tidak bersih. "Ini yang akan kami lakukan intervensi mulai dengan membantu meningkatkan ekonomi keluarga dengan memberikan modal usaha atau pekerjaan dan pengadaan renovasi rumah dan pembenahan jamban," kata dia.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan RI angka stunting di Kota Pariaman, Sumatra Barat turun 3,5 persen dari 20,3 persen pada 2021 menjadi 16,8 persen pada 2022. "Semua organisasi perangkat daerah (OPD) di Pariaman berkolaborasi untuk penanganan stunting, sehingga kami berhasil menurunkan angka stunting di Pariaman, jadi tidak satu atau dua dinas tapi semua dengan pola keroyok," kata Wali Kota Pariaman Genius Umar pada Rapat Koordinasi Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting di Pariaman.

Ia mengatakan, meskipun angka stunting di Pariaman pada 2022 turun dari tahun sebelumnya namun pihaknya terus berupaya menekan kasus gagal tumbuh pada anak dengan meningkatkan koordinasi tidak saja di tingkat OPD namun juga desa dan kelurahan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement