Senin 28 Nov 2022 17:46 WIB

Soal Lambannya Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Anak Kombes di PTIK, Ini Dalih Polisi

Pelaku disebut sering membawa nama jabatan sang ayah yang petinggi Polri.

Rep: Ali Mansur/ Red: Agus raharjo
Garis Polisi   (Ilustrasi)
Foto: Arief Priyono/Antara
Garis Polisi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polres Metro Jakarta Selatan mengeklaim lambannya penanganan kasus dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan anak Komisaris Besar (Kombes) Polisi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), bukan karena terduga pelaku adalah anak polisi. Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Polisi Nurma Dewi mengatakan, lambannya penanganan karena ada beberapa ahli yang hendak dimintai keterangan terkadang berhalangan.

"Domain semua ada di penyidik, kami sudah periksa 13 orang, periksa 13 orang itu kan bukan sedikit, mereka (juga) punya pekerjaan lain. Kemarin, kami undang saksi, terus berhalangan besoknya," ujar Nurma Dewi, kepada awak media, Senin (28/11/2022).

Baca Juga

Menurut Nurma, sebanyak 13 saksi yang telah dimintai keterangan tersebut diantaranya ibu, pelapor, terlapor, pelatih, asisten pelatih, kakak pelapor, juga teman-teman korban. Pemeriksaan terhadap saksi, kata Nurma masih bakal dilakukan lagi. Status terduga pelaku sendiri sampai saat ini masih saksi.

"Sekarang masih mau periksa lagi saksi-saksi yang melihat atau mendengar kejadian itu," ujar Nurma.

 

Kemudian terkait dengan adanya perbedaan keterangan antara pihak pelapor maupun terlapor, kata Nurma, pihak penyidik masih terus mendalaminya. Menurutnya, jika sudah benar-benar jelas duduk perkaranya, pihak Polres Metro Jakarta Selatan akan menyampaikan lagi kepada awak media.

Nurma menambahkan, selain keterangan hasil visum, pihak penyidik juga mengamankan hasil rekaman kamera pengawas atau CCTV sebagai bukti pendukung. Saat ini masih satu titik CCTV yang diambil, yaitu dari lokasi terjadinya penganiayaan. Namun tidak menutup kemungkinan akan ada CCTV di lokasi-lokasi yang bakal diperiksa.

"Jadi CCTV sudah kita ambil dari lokasi kejadian kemarin. Lain-lain sudah minta sama temen temennya apa saja yang bisa jadi barang bukti yang menguatkan," ucap Nurma.

Sebelumnya, seorang anak remaja berinisial FB (16 tahun) harus mengalami luka dan ketakutan usai dipukuli temannya berinisial RC (19) yang mengaku anak petinggi Polri. Peristiwa pemukulan itu terjadi di kawasan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (12/11/2022).

"Tiba-tiba anak saya pulang ke rumah, terus dia lapor kalau dia dipukul sama salah satu anak petinggi polisi. Tempat kejadiannya itu PTIK, mereka tempat bimbel kursus untuk masuk Akpol," ujar ibu korban Yusna, saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (15/11/2022) lalu.

Yusna mengatakan bahwa insiden yang menimpa anaknya tersebut sudah dilaporkan ke pihak Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan diterima dengan nomor LP/3596/XI/2022/RJS, Sabtu 12 November 2022. Pelapor juga telah menyerahkan bukti hasil visum terhadap korban berinsial FB. Akibat pemukulan itu muka korban memar dan berdarah.

"Sudah saya visum, di sini berdarah semua (area muka) memar disini, ulu hatinya juga. Tiga kali pukulnya (lokasi), di tempat parkir, lapangan tempat lari, dan mobil kita juga dirusak," ujar dia.

Tidak hanya dipukul, kata Yusna, anaknya juga diancam pelaku bakal dihabisi. Akibat ancaman pelaku RC, korban ketakutan, sampai-sampai tidak berani keluar rumah. Bahkan pada saat Yusna mengajak membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan, anaknya sempat tidak mau karena ketakutan akibat ancaman dari anak yang diduga petinggi polisi di Polda Kalimantan Utara (Kaltara).

"Sekarang yang paling parah anak saya ketakutan, soalnya sudah diancam mau dihabisin, dia (korban) tidak mau keluar rumah. Pelatih aja takut sama dia (pelaku) karena dimana-mana membuat masalah, dia selalu membawa nama anak kombes ‘saya ini anak kombes'," jelas Yusna.

Yusna mengaku, kronologis kejadian pemukulan itu berawal ketika korban dituding menyembunyikan topi milik terduga pelaku (RC). Korban (FB) dan pelaku sama-sama mengikuti pelatihan calon akpol di PTIK. Mirisnya kata Yusna, pemukulan terjadi depan pelatih. Lebih miris lagi, pelatih justru meminta korban untuk meminta maaf ke pelaku.

Namun ketika korban meminta maaf, justru ia mendapatkan ancaman dari pelaku. "Yang paling bikin saya miris itu pelatihnya itu tahu kalau anak saya sudah dibuat bonyok sama anak ini dan dia lihat sendiri kalau anak saya sudah dipukul sama anak itu," keluh Yusna dengan geram.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement