Selasa 25 Oct 2022 05:39 WIB

LRT Sumsel Dikritik Ridwan Kamil, Kemenhub: Okupansi Melonjak

Setelah ada angkot feeder pada Juni 2022, penumpang LRT Palembang naik 25 persen.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Petugas berpatroli mengawasi LRT Palembang di Stasiun Dishub, Kota Palembang, Provinsi Sumsel, Selasa (31/3/2020).
Foto: ANTARA/Feny Selly
Petugas berpatroli mengawasi LRT Palembang di Stasiun Dishub, Kota Palembang, Provinsi Sumsel, Selasa (31/3/2020).

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyampaikan, tingkat okupansi LRT Palembang di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami lonjakan yang signifikan setelah adanya layanan angkutan feeder New Oplet Musi Emas mulai Juni 2022. Hadirnya angkutan pengumpan tersebut turut meningkatkan jumlah penumpang LRT Palembang yang disebut sepi.

"Alhamdulillah peningkatan penumpang pascadiluncurkannya angkot feeder ini mencapai 25 persen," kata Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan (BPKARSS) Ditjen Perkeretaapian, Kemenhub, Dedik Tri Istiantara dalam keterangannya di Jakarta, Senin (24/10/2022).

Dedik menuturkan, peluncuran angkot tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui BPKARSS bekerja sama dengan Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah VII Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung, serta Dinas Perhubungan Sumsel. Langkah itu sebagai upaya memaksimalkan keterjangkauan LRT Sumsel dalam melayani masyarakat Palembang.

Dia menyebutkan, rata-rata penumpang harian meningkat menjadi 9.066 orang sejak angkot feeder diluncurkan pada Juli-Oktober 2022 daripada periode sebelumnya di angka 7.239 penumpang pada Januari-Juni 2022. Sementara itu, peningkatan penumpang juga terjadi di Stasiun Punti Kayu dan di Stasiun Asrama Haji.

 

Dedik menjelaskan, antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan LRT Palembang dan menyambung perjalanan menggunakan angkot feeder, mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan layanan angkutan pengumpan tersebut. Menurut dia, pemerintah akan menambah lima koridor tambahan secara bertahap.

Sehingga nantinya akan ada tujuh koridor angkot pengumpan yang melayani penumpang LRT Palembang. "Layanan angkot feeder ini turut melengkapi integrasi antarmoda LRT Sumsel setelah sebelumnya terintegrasi dengan layanan bus BRT dan Damri," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil mengkritik pembangunan LRT Palembang karena tidak tepat sehingga sepi penumpang. Pembangunan LRT Palembang menyambut perhelatan Asian Games 2018, sehingga dianggap proyek merugi. Hal itu karena tujuan pembangunan bukan untuk melayani masyarakat, melainkan menyambut ajang olahraga terbesar di Asia tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement