Senin 24 Oct 2022 14:37 WIB

Perajin Tahu dan Tempe di Tasikmalaya Berencana Mogok Produksi

Aksi mogok itu dilakukan sebagai respons dari terus melonjaknya harga kacang kedelai

Rep: Bayu Adji P/ Red: Nur Aini
Perajin memproduksi tahu di Kampung Nagrog Kulon, Kelurahan Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Senin (24/10/2022).
Foto: Republika/Bayu Adji
Perajin memproduksi tahu di Kampung Nagrog Kulon, Kelurahan Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Senin (24/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Paguyuban Tahu Tempe Jawa Barat (Jabar) telah mengeluarkan surat pemberitahuan kepada seluruh perajin untuk melakukan mogok produksi pada akhir pekan ini. Aksi mogok itu dilakukan sebagai respons dari terus melonjaknya harga kacang kedelai, yang merupakan bahan baku pembuatan tahu dan tempe.

Salah seorang perajin tahu di Kota Tasikmalaya, Ros (47 tahun), mengatakan, saat ini harga kacang kedelai sudah mencapai Rp 13.700 per kilogram. Harga itu disebut terus mengalami kenaikan setiap harinya.

Baca Juga

"Normalnya Rp 7.000 hingga Rp 8.000 (per kilogram)," kata dia di tempat produksi tahu, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, saat didatangi Republika.co.id, Senin (24/10/2022).

 

 

Menurut Ros, kenaikan harga kacang kedelai itu terjadi setelah adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Setelah itu, harga kacang kedelai selalu naik setiap harinya, dengan selisih Rp 100 hingga Rp 200 per kilogram.

Ros berharap, pemerintah dapat segera melakukan penanganan terkait harga kacang kedelai yang terus melonjak. "Harapannya mah bisa normal kembali harga kacang. Kalau naik terus, modal tidak ada, jadi produksi setiap hari turun," kata dia.

Salah seorang perajin tahu lainnya, Asep Cucu (42), kenaikan harga bahan baku itu membuat produksi di tempatnya berkurang. Saat ini produksi tahu di tempatnya hanya sekitar 120 kilogram. Padahal, dalam kondisi normal, produksi tahu di tempatnya bisa mencapai kebih dari 240 kilogram.

"Turun terus. Mau naik lagi susah, modal tidak ada. Harga naik terus," kata dia.

Menurut dia, stok kacang kedelai saat ini masih dalam kondisi aman. Namun, harganya terus naik.

Ia mengungkapkan, sebenarnya para perajin bisa menggunakan kacang kedelai lokal untuk memproduksi tahu. Harga kacang kedelai lokal saat ini juga relatif lebih murah, yaitu Rp 9.000-an per kilogram. Namun, menurut dia, memproduksi tahu dengan bahan baku kacang kedelai lokal hasilnya kurang maksimal.

"Kurang beukah (mengembang). Jadi rata-rata pakai impor kacangnya," ujar Asep.

Ia berharap, harga kacang kedelai dapat segera kembali normal. Sebab, perajin akan merugi apabila harga bahan baku terus mengalami kenaikan.

Ihwal rencana mogok, Asep mengaku sudah mendengar terkait pemberitahuan itu. Namun, para perajin di Kota Tasikmalaya belum menentukan sikap. "Mau dirapatkan lagi," kata dia.

Koordinator Forum Perajin Tahu dan Tempe Kota Tasikmalaya, Epan Ependi, mengatakan, pihaknya telah menerima surat pemberitahuan terkait rencana mogok produksi pada akhir pekan ini dari Paguyuban Tahu Tempe Jabar. Namun, para perajin di Kota Tasikmalaya belum berunding mengenai rencana itu.

"Buat wilayah Tasikmalaya mah belum ada keputusan. Kemarin kami sudah koordinasi, tapi mau dirundingkan terlebih dahulu. Belum ada keputusan mau ikut mogok atau tidak," kata dia saat dikonfirmasi Republika.co.id

Menurut dia, kondisi para perajin tahu dan tempe saat ini memang sedang kesulitan. Pasalnya, harga kacang kedelai terus mengalami kenaikan. Kondisi itu dinilai merupakan imbas dari naiknya harga BBM dan nilai tukar dolar.

"Apalagi sekarang penjualan di pasar sepi, karena sekarang musim hujan. Jadi makin terdampak para perajin," kata dia.

Epan meminta pemerintah dapat segera melakukan penanganan terkait kondisi tersebut. Apalagi, kenaikan harga kacang kedelai itu sudah terjadi sejak Agustus 2022.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement