Senin 03 Oct 2022 13:59 WIB

Pj Gubernur DKI, Jimly-Ryas Rasyid Sebut Bahtiar Figur Ideal

Pj Gubernur DKI Jakarta memiliki tugas penting.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi (kedua kiri) memimpin Rapat Pimpinan Gabungan (Rapimgab) terkait tiga nama calon Penjabat (Pj) Gubernur pengganti Anies Baswedan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (13/9/2022). Rapimgab yang dihadiri oleh pimpinan sembilan fraksi memutuskan tiga nama yang akan diberikan kepada Menteri Dalam Negeri, yakni Heru Budi Hartono, Marullah Matali, dan Bachtiar.
Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi (kedua kiri) memimpin Rapat Pimpinan Gabungan (Rapimgab) terkait tiga nama calon Penjabat (Pj) Gubernur pengganti Anies Baswedan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (13/9/2022). Rapimgab yang dihadiri oleh pimpinan sembilan fraksi memutuskan tiga nama yang akan diberikan kepada Menteri Dalam Negeri, yakni Heru Budi Hartono, Marullah Matali, dan Bachtiar.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Teka teki seputar siapa yang menjadi Pj Gubernur DKI Jakarta masih menghangat. Tiga nama saat ini digadang-gadang menjadi calon kuat, Heru Budi Hartono, Marullah Matalih, serta Bahtiar. 

Dua Pakar Hukum yang juga Tokoh Nasional, Jimly Asshidiqie serta Ryas Rasyid menyebut Bahtiar sosok yang ideal menjadi Pj Gubernur. Bahtiar saat ini tercatat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). 

Baca Juga

Jilmy mengatakan seorang Pj Gubernur DKI Jakarta memiliki tugas ‘maha penting’, yang berkaitan dengan kelanjutan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Sehingga butuh sosok yang memang paham dan pengalaman dalam hal legislasi. 

Regulasi yang dimaksud Jimly adalah perubahan Undang-undang tentang kedudukan Ibukota Negara yang baru, di mana UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Ibukota Negara di DKI Jakarta, akan berganti dengan UU Nomor 3 Tahun 2022 tentang IKN (Ibukota Nusantara). 

“Ini harus dikawal betul oleh sosok yang terbiasa membahas dan mendalami perundang-undangan. Termasuk komunikasi dengan legislatif maupun pemerintah pusat,” ujar Jimly dalam keterangannya tertulisnya, Senin (3/10/2022)

Dari ketiga nama itu, menurut Jimly, sosok Bahtiar dinilainnya sangat mumpuni. Alumnus Universitas Hasanuddin tersebut sebelumnya memiliki segudang pengalaman dalam proses penyusunan undang-undang. 

“Jadi secara kultur, (Bahtiar) sudah memahami alur dan prosesnya seperti apa,” jelas Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut. 

Dari sisi pengalaman Bahtiar pun memiliki pengalaman memimpin provinsi, di mana ketika itu dirinya diamanahi memimpin Pj Gubernur Kepulauan Riau. 

“Di samping itu Bahtiar lebih netral. Dia bisa merangkul semua pihak. Dari Istana karena dia orang pemerintah, dari DKI karena dia memang mengurusi pemerintahan umum. Hubungannya dengan Pemda dekat sekali,” beber Jimly. 

Hal senada diungkapkan Pakar Otonomi Daerah Profesor Ryas Rasyid. 

Ryas menjabarkan bahwa secara kompetensi, ketiga nama calon Pj Gubernur DKI punya kualitas mumpuni. Ryas lantas mencontohkan sosok Soni Seomarsono yang notabene sukses menjadi Pj Gubernur DKI Jakarta. 

Maka dari itu, dari kaca mata pribadinya, dari ketiga nama yang jadi kandidat kuat, sosok Bahtiar mendekati sosok sepertihalnya Soni. 

“Sama-sama Dirjen. Kemudian Bahtiar ini lebih netral. Dia belum pernah bekerja di DKI. Tidak punya jaringan khusus di DKI. Jejaknya Bahtiar ini sama seperti halnya Pak Soni,” beber Ryas. 

“Pejabat Kemendagri itu paling takut bikin kesalahan. Kita ini betul-betul punya karir, harus dijaga. Nah, Dirjen atau Sekjen ini puncak karirnya PNS. Maka sangat hati-hati, sama sepertihalnya Pak Soni. Pak Bahtiar juga pernah menjadi Pj Gubernur Riau. Kalau Pj Gubernur dari Kemendagri ini aman, gak berani macam-macam,” pungkas Bahtiar. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement