Sabtu 27 Aug 2022 00:38 WIB

Jawa Tengah Tambah Luas Lahan untuk Pengembangan Tanaman Sorgum

Tanaman sorgum sebagai pangan alternatif yang disiapkan mendukung ketahanan pangan

Red: Nur Aini
Pekerja memanen tanaman sorgum, ilustrasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan bakal menambah luasan lahan untuk pengembangan tanaman sorgum
Foto: ANTARA FOTO/Seno
Pekerja memanen tanaman sorgum, ilustrasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan bakal menambah luasan lahan untuk pengembangan tanaman sorgum

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan bakal menambah luasan lahan untuk pengembangan tanaman sorgum. Tanaman itu menjadi pangan alternatif yang disiapkan mendukung ketahanan pangan nasional sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

"Pada tahun depan, Jateng direncanakan mendapat alokasi tambahan ribuan hektare untuk penanaman sorgum. Untuk 2023 kami dapat alokasi 25 ribu hektare," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng Supriyanto di Semarang, Jumat (27/8/2022).

Baca Juga

Ia menyebut saat ini luasan lahan untuk pengembangan sorgum di Jateng tercatat 120 hektare yang terbagi di Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Cilacap dengan luasan berbeda.

"Atas biaya APBN kami dapat 120 hektare, di Wonogiri 50 hektare sudah tanam Juli. Nah yang 10 hektare di bulan Agustus, di Sukoharjo 20 hektare tanam di bulan Agustus, yang 40 hektare di Cilacap tanam Oktober tahun ini," ujarnya.

 

Ia memerinci untuk setiap hektare produktivitas tanaman sorgum bisa mencapai 8-9 ton sehingga diperkirakan pada 120 hektare yang telah ditanami sorgum dapat menghasilkan sekitar 960-1080 ton sorgum.

Menurut dia, Pemprov Jateng kini fokus untuk membantu petani pada penanganan pascapanen produk sorgum karena produk sorgum selama ini hanya dikonsumsi pada kalangan terbatas seperti penderita diabetes.

Bantuan kepada petani, dilakukan dengan rencana pemberian bantuan alat pengolahan panen sorgum dan pendampingan pengolahan pascapanen.

"Pendampingan kepada petani penting agar petani tidak merasa rugi mengembangkan sorgum, karena pasar umum yang belum terbentuk," katanya.

Selama ini pertanian sorgum di Jateng masih dilakukan secara sporadis oleh para petani, beberapa wilayah seperti Demak, Wonogiri dan Kabupaten Semarang mengembangkan pertanian secara mandiri.

Kondisi ini tidak lepas dari pasar yang belum familiar dengan pengolahan sorgum. Tanaman sorgum sebenarnya tidak memerlukan kriteria lahan subur sebab dapat tumbuh di lahan yang sulit air sekalipun.

"Oleh karena itu, kami fokus untuk membantu petani selepas tanam sorgum dan membuka pintu seluas-luasnya mengenai kemungkinan kerja sama dengan startup pengolah sorgum pemenang kompetisi rintisan digital Jateng," ujarnya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement