Ahad 21 Aug 2022 17:18 WIB

Pemkab Tangerang Bakal Tata 25 Desa Kawasan Pesisir Laut

Pemkab Tangerang akan melakukan penataan terhadap 25 desa kawasan pesisit laut.

Rep: Eva Rianti/ Red: Bilal Ramadhan
Bupati Tangerang yang juga Wakil Presiden PEMSEA PNLG Ahmed Zaki Iskandar saat meninjau program penataan pesisir di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Pemkab Tangerang akan melakukan penataan terhadap 25 desa kawasan pesisit laut.
Foto: Istimewa
Bupati Tangerang yang juga Wakil Presiden PEMSEA PNLG Ahmed Zaki Iskandar saat meninjau program penataan pesisir di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Pemkab Tangerang akan melakukan penataan terhadap 25 desa kawasan pesisit laut.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Tangerang menyampaikan akan melakukan penataan terhadap 25 desa di kawasan pesisir laut bagian utara Kabupaten Tangerang. Sejauh ini, penataan sudah dilakukan terhadap dua desa, yakni Desa Kohod di Kecamatan Pakuhaji dan Desa Ketapang di Kecamatan Mauk.

“Wilayah pesisir pantai ada delapan kecamatan. Dari delapan kecamatan itu, ada 25 desa pesisir yang menjadi objek penataan. Desa Kohod di Kecamatan Pakuhaji sudah selesai, lalu berlanjut Desa Ketapang juga, baru dua desa itu,” kata Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Ahad (21/8/2022).

Baca Juga

Zaki menjelaskan, kawasan pesisir laut utara mengalami berbagai masalah lingkungan. Dia bercerita, pesisir Kabupaten Tangerang pada 1980 hingga 1990 memiliki banyak tambak ikan.

Pada pertengahan 1990-an mengalami kesulitan pengembangbiakan karena airnya tercemar polutan sampah serta abrasi. Budidaya udang yang kerap dilakukan masyarakat pesisir pun beralih pada budidaya bandeng sejak sekitar 1995.

Namun, seiring dengan adanya masalah pencemaran air laut yang terus terjadi, pada sekitar 2008 kualitas ikan bandeng yang dibudidaya makin buruk dengan ukuran yang makin kecil.

“Itu terjadi karena makin jelek kualitas air di pesisir utara Tangerang, yakni masalah polusi laut, sampah, sedimentasi, dan abrasi,” kata Zaki.

Dengan masalah lingkungan yang ada, Zaki menuturkan, pihaknya melakukan upaya penataan wilayah pesisir agar menjadi kawasan yang lebih mengangkat nilai lingkungan hidup.

Dia mencontohkan, upaya yang sudah dilakukan olehnya yakni menciptakan hutan mangrove di Desa Ketapang Kecamatan Mauk sejak 2014.

“Dengan adanya hutan mangrove yang kita rehabilitasi, kualitas air jauh membaik. Kita budidaya ikan air payau, berhasil hidup, lalu panen. Kita coba udang, Alhamdulillah hidup. Jadi, yang tadinya udang susah hidup, memungkinkan dibudidaya lagi. Mangrove ini bukan cuma menyerap karbon, tapi membersihkan kualitas air,” jelasnya.

Hingga saat ini, dia menyebut ada sebanyak 720 ribu batang mangrove dengan 16 mangrove spesies serta dua jenis mangrove langka yang tumbuh di Desa Ketapang.

Zaki menyebut, bahkan pengelolaan mangrove tersebut dilihat mata dunia. Kabupaten Tangerang dikabarkan menjadi tuan rumah agenda International Partnership in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) Network of Local Government (PNLG) Meeting Summit pada 25-29 Oktober 2022 karena daya tarik Desa Ketapang yang kaya budidaya mangrove.

Zaki memastikan akan terus melakukan penataan terhadap kawasan pesisir laut di utara Kabupaten Tangerang yang belum tersentuh. “Kita akan tata satu per satu desa-desa di pesisir laut utara,” tuturnya.

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement