Kamis 18 Aug 2022 19:30 WIB

HUT ke-77 RI: Peranan Pemuda dalam Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi ini merupakan aset dari suatu Negara.

Anggota Paskibraka Ayumi Putri Sasaki (tengah) membawa bendera Merah Putih usai diturunkan dalam Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih dalam rangka HUT ke-77 Kemerdekaan RI di Jakarta, Rabu (17/8/2022). HUT ke-77 RI tersebut mengangkat tema Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat.
Foto:

Oleh : Heka Hertanto, Ketua Umum Artha Graha Peduli

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), para milenial bercirikan mudah mengkritik, teknologi nomor satu, meninggalkan kebiasaan lama, dan susah untuk menjadi contoh karena kasus tawuran, pergaulan bebas, narkoba yang menjerat milenial (Statistik, 2018). Menurut data BPS, sampai Agustus 2022 jumlah penduduk Indonesia sebesar 275.773.800 jiwa dan sekitar 34,7 persen, di antaranya adalah penduduk dengan usia 13 s/d 34 tahun. Menurut data penelitian yang dilakukan Statista pada 2020 kelompok usia 13--24 tahun menjadi kelompok usia yang dominan dalam menggunakan sosial media dengan prosentase 43,6 persen dari total seluruh pengguna media sosial di Indonesia.

Kecepatan media sosial menampilkan berita, informasi, dan pandangan tertentu dalam cuitan atau postingan menjadi daya tarik tersendiri untuk kaum milenial dalam menggunakan media sosial. Media sosial mampu memberikan pengaruh besar dalam merubah cara berpiki masyarakat, bahkan media sosial seringkali digunakan sebagai saluran komunikasi resmi oleh instansi pemerintahan. Namun sering kali media sosial digunakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi nya secara frontal dan tidak terkendali, mengangkat isu SARA maupun berita–berita yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya (hoax).

Penggunaan media sosial yang seperti itu tentunya akan membawa dampak negatif, yaitu meningkatkan potensi untuk memecah kesatuan bangsa. Sering kita  simak ada kerusuhan atau konflik antarwarga karena dampak dari penyebaran berita bohong yang tidak disaring.

Kecepatan ujung jari menyebarkan kabar bohong mengalahkan kemampuan otaknya untuk meneliti lebih lanjut.  Penyebaran hoaks bisa berdampak ke aspek perekonomian.

Dalam menghadapi fenomena dampak negatif dari media sosial ini para pemuda kaum milenial haruslah menjadi motor ujung tombak dalam melakukan perubahan untuk meredam isu-isu hoaks yang dapat memicu konflik horizontal antar masyarakat. Di usia 77 tahun Indonesia merdeka, adalah kewajiban tokoh pemuda kaum milienial untuk melakukan cek dan ricek dalam menerima setiap informasi. Konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai bisa mengoyang sendi-sendi negara.

Perang melawan hoaks, intoleransi, ketidakadilan dan sebagainya tidak pernah berhenti dan selesai. Justru di era medsos, konten negatif harus dilawan dengan konten positif oleh pejuang sejati  dalam rimba dunia maya  yang tidak tidur 24 jam.

Menurut Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di peringatan Sumpah Pemuda tahun 2021, pemuda adalah kekuatan terbesar dari bonus demografi bangsa indonesia yang memiliki jiwa pemberani untuk mengambil resiko dan merebut peluang yang ada serta inovatif (Jokowi, 28 Oktober 2021). Kaum milenial telah menjadi faktor penting untuk dapat mencapai kemajuan di masa depan.

IMF dan Bank Dunia memprediksi  saat ini  peringkat produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada 16 di antara negara-negara G20, dengan PDB sebesar USD1,07 triliun. Kedua lembaga itu memproyeksikan Indonesia akan masuk 10 besar ekonomi dunia. Bahkan, pada 2024 RI menempati peringkat kelima dengan PDB tertinggi di dunia setelah China, AS, India, dan Jepang.  

Berdasarkan data PricewaterhouseCooper pada Januari 2022, peningkatan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang paling mengejutkan dari daftar 10 besar negara dengan ekonomi terbesar pada tahun 2050. Saat ini, ekonomi Indonesia menempati urutan ke 16. Artinya, pada tahun 2045, Indonesia akan melompat jauh dalam beberapa dekade ke depan. Hal tersebut karena pertumbuhan yang produktif, sumber daya alam yang besar dan populasi yang besar.  

Salah satu faktor negara disegani oleh negara lain karena memiliki fondasi ekonomi yang kokoh sehingga tahan banting dari gempuran ekonomi dari negara lain yang mau menghancurkan ekonomi negara tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya para pemuda kaum milenial dapat terus mempertahankan kemerdekaan dengan tetap meneruskan perjuangan para pemuda yang telah dimulai sembilan puluh dua tahun lalu tanggal 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari seluruh penjuru nusantara menyisihkan perbedaan di antara mereka yang beragam suku, agama, dan bahasa daerah untuk bersumpah menjadi Indonesia yang satu: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement