Selasa 02 Aug 2022 19:36 WIB

Penyebab Anggota Teroris Sulit Keluar dari Kelompoknya

Anggota teroris sulit keluar dari kelompoknya.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Hafil
Penyebab Anggota Teroris Sulit Keluar dari Kelompoknya. Foto:   Ilustrasi Terorisme
Foto: Republika/Mardiah
Penyebab Anggota Teroris Sulit Keluar dari Kelompoknya. Foto: Ilustrasi Terorisme

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Mantan teroris yang terlibat dalam peristiwa Bom Bali, Ali Fauzi mengungkapkan, faktor terbesar masih banyaknya orang bergabung dengan jaringan radikalisme dikarenakan faktor friendship dan kinship (pertemanan dan kekeluargaan). Ali menjelaskan, radikalisasi bukanlah sebuah produk dari keputusan yang singkat, tetapi hasil dari sebuah proses panjang.

Menurut pengalamannya, proses ini terjadi dengan perlahan-lahan mendorong seseorang untuk berkomitmen pada aksi kekerasan atas nama Tuhan. Namun alasan yang membuat anggotanya tetap tinggal yakni adanya dukungan sesama anggota. 

Baca Juga

Ali mengungkapkan, pada dasarnya komunitas teroris itu memberikan dua dukungan kepada para anggotanya. Pertama adalah dukungan moral yang terbentuk melalui pemberian pemahaman radikal kepada para anggotanya lewat pengajian, idad, rihlah, mukhoyamah, dan sebagainya.

"Kedua adalah support material seperti halnya bantuan pendidikan, lapangan kerja, bantuan kesehatan, dan lain-lain," kata Ali saat memberikan paparan dalam acara Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan (PSB) di Graha Sepuluh Nopember Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selasa (2/8/2022).

 

Menurut Ali, kedua dukungan itu yang mengikat kesetiaan anggota komunitas teroris, sehingga nyaman dan sulit untuk keluar. Mereka merasa jika keluar dari lingkungan tersebut tidak mempunyai teman, dikucilkan, dimusuhi, bahkan diancam pembunuhan. Oleh karenanya, sangat penting membentuk sebuah komunitas baru yang memberikan dukungan serupa tetapi bersifat positif.

“Seperti (komunitas) cinta negara, cinta perdamaian, toleransi, menjunjung Islam yang ramah bukan marah,” ujar Ali.

Ali mengibaratkan terorisme seperti penyakit komplikasi. Oleh karena itu, cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal. Harus banyak aspek, perspektif, dan metodologi. Perlu pula adanya dokter spesialis dan juga kampanye pencegahan dari orang yang pernah sembuh dari penyakitnya.

Ali mengungkapkan, penyebaran paham radikalisme dapat melalui berbagai media. Salah satu yang kerap menjadi sasaran empuk komunitas teroris adalah perguruan tinggi, dimana mahasiswanya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement