Jumat 22 Jul 2022 11:57 WIB

Citayam Fashion Week Sampai Malam, Wagub DKI: Bubarkan Jika Melanggar

Pembubaran Citayam Fashion Week dinilai untuk kebaikan anak-anak

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Nur Aini
Warga duduk-duduk dan berbincang di kawasan Taman Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (14/7/2022). Pemprov DKI Jakarta akan menertibkan masyarakat yang duduk-duduk dan berkumpul di kawasan tersebut diatas pukul 22.00 WIB, sesuai ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Warga duduk-duduk dan berbincang di kawasan Taman Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (14/7/2022). Pemprov DKI Jakarta akan menertibkan masyarakat yang duduk-duduk dan berkumpul di kawasan tersebut diatas pukul 22.00 WIB, sesuai ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria meminta Satpol PP DKI untuk menindak dan membubarkan kegiatan anak-anak di Citayam Fashion Week, Dukuh Atas, Jakarta Pusat jika melanggar berbagai ketentuan. Menurut dia, perintah pembubaran itu dilakukan demi kebaikan para anak-anak.

Riza menuturkan, Satpol PP, Polda Metro Jaya, dan seluruh petugas lalu lintas agar tidak sungkan menindak anak-anak yang melanggar.

Baca Juga

“Jangan sungkan untuk membubarkan kegiatan anak-anak jika melanggar aturan dan etika,” kata Riza dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (22/7/2022).

Dia berharap, tidak ada kekerasan dan hal-hal yang tidak diinginkan pada setiap anak yang rata-rata di bawah umur tersebut. Dia menambahkan, selain bagi anak-anak di fashion show Dukuh Atas, imbauan itu juga berlaku bagi anak-anak di Taman Kota, atau tempat-tempat lainnya. Meski demikian, Riza menyebut pihak dia mengapresiasi kegiatan positif tersebut.

“Apalagi kalau menggunakan produk lokal, kami berikan dua jempol. Tapi kami minta pukul 22.00 WIB sudah wajib pulang ke rumah,” ujarnya.

Menurutnya, alasan permohonan pulang lebih awal itu agar tidak tertinggal transportasi umum malam menuju rumah masing-masing. Utamanya, kata dia, bagi anak-anak yang bermukim di Citayam, Bojong Gede, dan daerah penyangga lainnya.

“Kami tidak ingin anak-anak sakit, alami kekerasan, dan perlakuan tidak pantas lainnya karena tidur di sembarang tempat,” ucap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement