Selasa 19 Jul 2022 13:21 WIB

DKI Godok Lagi Penggantian Nama Jalan

Pemprov DKI Jakarta akan menggodok lagi penambahan penggantian nama jalan.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Bilal Ramadhan
Spanduk penolakan pergantian nama jalan terpasang di Jalan A Hamid Arief atau nama sebelumnya Jalan Tanah Tinggi I Gang 5, Jakarta, Jumat (1/7/2022). Pemprov DKI Jakarta akan menggodok lagi penambahan penggantian nama jalan.
Foto: Prayogi/Republika.
Spanduk penolakan pergantian nama jalan terpasang di Jalan A Hamid Arief atau nama sebelumnya Jalan Tanah Tinggi I Gang 5, Jakarta, Jumat (1/7/2022). Pemprov DKI Jakarta akan menggodok lagi penambahan penggantian nama jalan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mengatakan, pihaknya memang akan membahas lebih jauh penamaan jalan dengan tokoh Betawi gelombang selanjutnya. Namun demikian, kata dia, pihaknya juga akan menggodok nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia selain dari tokoh Betawi itu sendiri.

“Kami mengikuti saja. Akan ada periode (penamaan) berikutnya yang lebih baik dari sisi penamaan dari tokoh nasional,” kata Iwan kepada awak media, Selasa (19/7/2022).

Baca Juga

Dia melanjutkan, pembahasan penggantian nama ruas jalan akan terus berkembang. Namun demikian, dirinya menegaskan jika penggantian nama jalan itu akan dimulai dengan memuliakan tokoh Betawi dan para seniman.

Iwan menambahkan, penggantian nama jalan yang memungkinkan, ada di beberapa jalan dengan nama-nama. Dia menyebut, akan lebih baik jika nama jalan itu diganti dengan tokoh yang dimuliakan oleh Jakarta.

“Ingat, Jakarta itu world of literature city, jadi pembelajaran nama-nama jalan itu wajib diketahui,” tuturnya.

Ditanya ada berapa usulan nama jalan yang kali ini digodok, Iwan belum bisa menjawabnya. Menurut dia, hasil rumusan itu akan diumumkan saat masukan dari semua tim penamaan jalan selesai ditempatkan.

Dia mengatakan, kriteria penamaan jalan yang selanjutnya dilakukan, seirama dengan tematik tokoh yang ditetapkan untuk ruas jalan tersebut. Tetapi, kata dia, dalam prosesnya tetap akan melibatkan banyak sejarawan.

“Tentu saja dengan orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan di bidang sejarah,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement