Ahad 03 Jul 2022 10:48 WIB

Rayakan HUT, Majalah Horison Gelar Malam Budaya

Pada bulan ini, Majalah Sastra Horison genap berusia 56 tahun.

Rep: Muhyiddin/ Red: Hasanul Rizqa
Penyair Taufiq Ismail di acara peringatan HUT Horison
Foto: wiki
Penyair Taufiq Ismail di acara peringatan HUT Horison

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melewati masa setengah abad, Majalah Sastra Horison terus berusaha dan produktif dalam mengembangkan kesusastraan Indonesia. Tepat pada bulan ini, majalah yang terbit perdana pada tahun 1966 tersebut merayakan peringatan ulang tahun.

Perayaan berlangsung meriah dengan gelaran Malam Budaya di Kantor Badan Bahasa, Jakarta Timur. Turut hadir sejumlah sastrawan, budayawan, dan akademisi. Di antaranya adalah Taufiq Ismail, Putu Wijaya, Prof Salim Said, dan Prof Aminuddin Aziz selaku kepala Badan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek. Di samping itu, datang pula perwakilan komunitas-komunitas sastra dari pelbagai daerah.

Baca Juga

Dalam sambutannya, Taufiq Ismail mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Ia pertama-tama bersyukur, Indonesia dapat melalui rentetan wabah penyakit, utamanya pandemi Covid-19, yang telah merenggut banyak nyawa. Ia berharap, semua pihak dapat memetik hikmah dari peristiwa-peristiwa yang lalu.

“Alhamdulillah, dalam pertemuan kita di ruangan yang luas ini, kita memperingati umur Majalah Sastra Horison yang ke-56, serta Hari Sastra Indonesia kesembilan,” ujar penyair senior itu, Sabtu (2/7/2022) malam.

 

photo
Dramawan dan cerpenis Putu Wijaya (duduk, bertopi) membawakan monolog di atas panggung Malam Sastra di Kantor Badan Bahasa, Jakarta Timur, Sabtu (2/7/2022) - (DOK REP MUHYIDDIN)

 

Horison terbit perdana pada 15 Juli 1966 lalu. Penerbitannya diinisiasi para tokoh dan sastrawan Angkatan 66. Di antara mereka adalah Mochtar Lubis, PK Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail.

Di atas panggung, penyair kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, itu juga mengajak hadirin untuk memanjatkan doa bagi almarhum Mochtar Lubis. Tokoh yang wafat pada 2 Juli 2004 itu semasa hidupnya dikenal sebagai jurnalis yang juga pejuang hak asasi manusia (HAM).

Mendiang lahir pada tahun 2022. Artinya, pada tahun ini usianya genap 100 tahun. “Pada tahun ini seorang dari sastrawan terkemuka Indonesia telah 100 tahun lamanya, yaitu kakanda Mochtar Lubis. Al-Fatihah untuk Kakanda,” ucap Taufiq.

Di atas panggung Malam Budaya, penulis //Tirani dan Benteng// itu membacakan tiga buah puisi: “Nasihat-Nasihat Kecil Orang Tua” (16 April 1965); “Sajadah Panjang”; serta “Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu” (1989).

Prof Salim Said dalam pidato kebudayaan menyampaikan, Mochtar Lubis adalah sosok yang tidak hanya berjuang dengan pena, melainkan tindakan nyata. Bahkan, sembilan tahun lamanya pendiri Horison dan harian Indonesia Raya itu pernah dipenjara rezim Orde Lama tanpa proses pengadilan.

Sebab, almarhum dan kawan-kawan dianggap sebagai musuh-politik penguasa. Mereka selalu bersuara kritis dan vokal terhadap ketidakadilan. “Yang menarik buat saya, Mochtar Lubis adalah ketika ia masih di tahanan, belum lagi bebas dari penjara Orde Lama, sudah menyanggupi kesediaan menjadi pemimpin, menerbitkan majalah Horison,” ujar Prof Salim, mengenang.

Orde Lama tumbang. Lahirlah Orde Baru. Mulanya, Mochtar dan kawan-kawan menaruh optimisme. Akan tetapi, ternyata jauh panggang dari api. Pada masa presiden Soeharto, pemberangusan terhadap pers pun terjadi. Harian yang dipimpin Mochtar Lubis juga ditutup.

Malahan, Mochtar sendiri kembali menjadi tahanan politik. Prof Salim berharap, kekecewaan seperti yang dirasakan salah seorang pendiri Horison itu tidak akan berlanjut di era Reformasi.

“Marilah kita berdoa supaya era sekarang yang disebut Reformasi tidak berlanjut mengecewakan kita. Kita sudah kecewa berkali-kali,” kata dia.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Bahasa, Prof Aminuddin Aziz menyampaikan, sejak munculnya pandemi Covid-19 pada awal 2020, baru kali ini Badan Bahasa menggelar acara terbuka untuk mengapresiasi bahasa dan sastra. Untuk itu, ia mengaku bersyukur sekali.

“Kami sengaja menyediakan panggung ini untuk bisa digunakan sebagai tempat bagi para pegiat bahasa dan sastra yang ingin menggelarkan karya-karya kreatifnya dan berbagi dengan masyarakat. Panggung terbuka ini miliki kita bersama,” kata dia.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement