Rabu 22 Jun 2022 22:02 WIB

FKH UGM Terjunkan Satgas Atasi PMK di Sleman

Mereka memberikan edukasi ke para peternak terkait kebersihan kandang dan hewan

Rep: wahyu suryana/ Red: Hiru Muhammad
Veteriner FKH UGM melihat kondisi mulut hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di kandang terpadu Desa Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Rabu (22/6/2022). Sapi milik warga yang terjangkit PMK di kandang terpadu warga menjadi fokus pemantauan Veteriner. Veteriner hanya memberikan antibiotik dan vitamin untuk menjaga kondisi dan mempercepat penyembuhan sapi yang terjangkit.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Veteriner FKH UGM melihat kondisi mulut hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di kandang terpadu Desa Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Rabu (22/6/2022). Sapi milik warga yang terjangkit PMK di kandang terpadu warga menjadi fokus pemantauan Veteriner. Veteriner hanya memberikan antibiotik dan vitamin untuk menjaga kondisi dan mempercepat penyembuhan sapi yang terjangkit.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tiga dokter hewan dari Satgas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM melakukan pemeriksaan ternak Kalurahan Bimomartani, Kapanewon Ngemplak. Pemeriksaan turut melibatkan enam mahasiswa koasistensi.

Pemeriksaan dilakukan di kandang sapi terpadu yang dihuni 50 ekor sapi, dengan 90 persen positif PMK. drh Dwi Sunu Datrianto dari Satgas PMK mengatakan, mereka melakukan pemeriksaan lanjutan penanganan yang dilaksanakan puskeswan Ngemplak.

Baca Juga

"PMK memang memerlukan beberapa kali terapi, dan di kandang ini ada yang sudah mendapatkan penanganan kedua, ketiga dan ada juga temuan baru," kata Dwi, Rabu (22/6/2022).

Pemeriksaan dan pengobatan dilakukan dengan pendampingan drh Yeni Kurniawati dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Ngemplak. Selain itu, tim yang secara rutin menjalin komunikasi dengan peternak serta dokter hewan di lapangan.

Mereka memberikan edukasi kepada peternak-peternak terkait kebersihan ternak dan kandang, serta langkah-langkah antisipatif. Dwi menekankan, sebagai antisipasi PMK peternak-peternak memang harus rutin menyemprotkan disinfektan setiap hari.

"Kami juga sudah berdiskusi dengan kelompok ternak, setelah ini akan dilakukan lockdown dengan pembatasan transportasi ternak serta ke luar masuk orang," ujar Dwi.

Selain di Kabupaten Sleman, Satgas PMK FKH UGM telah pula melakukan kegiatan pemeriksaan serta pengobatan di Kabupaten Bantul, Boyolali dan Cilacap. Satgas ini dibentuk untuk mendukung penanganan PMK oleh para dokter hewan di lapangan.

Khususnya, terhadap kandang atau peternakan yang memiliki ternak dalam jumlah besar. Asistensi Tim Satgas PMK FKH UGM diberikan usai menerima informasi dari dokter hewan lapangan terkait temuan gejala PMK ke ternak di wilayah tersebut.

Ia menerangkan, dalam satu kelompok ternak, misalnya ada tiga yang terkena PMK, maka semua ternak harus diperiksa agar penyebarannya terkendali. Karenanya, Dwi menekankan, teman-teman di lapangan pasti membutuhkan lebih banyak tenaga. "Sehingga, FKH membentuk tim dan mengajak mahasiswa terlibat dalam penanganan PMK," kata Dwi.

Yeni menegaskan, setiap kegiatan penanganan dilakukan dengan mengenakan alat pelindung diri serta protokol kesehatan yang sesuai. Tim Satgas juga membawa berbagai peralatan pemeriksaan serta obat-obatan untuk penanganan PMK.

Sebelum kunjungi kandang, mahasiswa menerima pengarahan di Puskeswan Ngemplak, terutama terkait protokol kesehatan mencegah penyebaran virus penyebab PMK. Ia menekankan, dalam kondisi ini tenaga medis jadi titik krisis penyebaran virus."Karena itu kita harus sangat berhati-hati," ujar Yeni.

Selain pemeriksaan dan pengobatan di Bimomartani, Satgas PMK FKH UGM dan dokter hewan Puskesmas Ngemplak meninjau lokasi kandang peternak sapi Taruna Mandiri di Widodomartani. Yang mana, telah menerapkan prokes dan rutin memeriksakan hewan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement