Ahad 01 May 2022 08:55 WIB

Warga Bojonegoro Sambut Idul Fitri dengan Tradisi Lampu Colok-Colok

Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak dahulu, bahkan saat Sukarno masih kecil.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ilham Tirta
Suasana pelaksanaan tradisi pasang colok-colok menjelang Idul Fitri di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam tradisi ini, masyarakat setempat memasang penerang dari bambu yang terdapat api di atasnya. Penerang yang dinamakan colok-colok ini dipasang di depan masing-masing rumah warga.
Foto: Wilda Fizriyani
Suasana pelaksanaan tradisi pasang colok-colok menjelang Idul Fitri di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam tradisi ini, masyarakat setempat memasang penerang dari bambu yang terdapat api di atasnya. Penerang yang dinamakan colok-colok ini dipasang di depan masing-masing rumah warga.

REPUBLIKA.CO.ID, BOJONEGORO -- Ada yang berbeda yang dilaksanakan warga Dukuh Dono, Desa Temu, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro dalam menyambut Idul Fitri. Pada Sabtu (30/4/2022) atau 29 Ramadhan malam, mereka melaksanakan tradisi pasang lampu colok-colok di sekitar rumahnya.

Pelaksana tradisi ini terlihat jelas ketika hari sudah mulai memasuki waktu Maghrib. Sejumlah warga Dukuh Dono nampak memasang penerangan kecil bernama colok-colok di masing-masing depan rumahnya. Penerangan tersebut berupa potongan bambu yang di atasnya diberi kain yang telah dilapisi minyak lalu dibakar sehingga memunculkan api ukuran kecil semacam obor.

Baca Juga

Warga Dukuh Dono, Sukarno mengatakan, tradisi pasang colok-colok bukan pertama kali dilaksanakan di daerahnya. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu bahkan saat dia masih kecil. "Sejak lahir, itu (tradisi colok-colok) sudah ada (di Dukuh Dono)," kata pria kelahiran 1957 ini saat ditemui Republika.co.id di kediamannya, Sabtu malam.

Berdasarkan cerita orang tua Sukarno, tradisi tersebut perlu dilakukan untuk menghormati leluhur keluarga yang sudah tiada. Pasalnya, arwah mereka akan mengunjungi keturunannya pada 29 Ramadhan malam atau hari terakhir puasa. Para leluhur ingin memastikan apakah keturunannya mendoakan mereka atau tidak.

"Kalau enggak didoakan, para leluhur akan menangis. Ceritanya seperti itu kalau kata orang tua zaman dahulu," kata dia.

Untuk mendoakan leluhur, maka keturunannya melaksanakan tradisi pasang colok-colok. Keluarga leluhur menancapkan penerangan colok-colok di depan rumah. Selain itu, ada pula yang memasangnya di gerbang rumah, kamar mandi, belakang rumah, dan sebagainya.

Menurut Sukarno, tidak ada batasan jumlah colok-colok yang bisa dipasang di sekitar rumah. Namun dia tak menampik, jumlah colok-colok yang dipasang saat ini tidak sebanyak di masa lampau. Pada masa lampau, colok-colok benar-benar dipasang di sepanjang jalan, bukan di depan rumah semata.

Pengurangan jumlah colok-colok yang dipasang dilatarbelakangi dengan perubahan zaman pula. Saat ini, masyarakat sudah banyak memiliki penerangan listrik.

Pada masa sekarang, bentuk colok-colok yang dipasang juga sudah ada perubahan. Saat ini jarang warga yang memasang colok-colok berupa oncor (bambu utuh). Warga lebih sering menggunakan potongan atau belahan bambu ukuran kecil, bahkan ada juga yang memasang lilin guna menyesuaikan perubahan zaman.

Menurut Sukarno, tradisi pasang colok-colok semula banyak dilakukan warga Bojonegoro. Namun saat ini hanya beberapa wilayah yang melaksanakan tradisi tersebut. Terlebih, pemasangan colok-colok murni dari kesadaran dari masing-masing warga.

"Tidak ada perintah. Murni dari keinginan diri sendiri supaya bisa melestarikan tradisi tersebut," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement