Rabu 23 Mar 2022 14:11 WIB

BPTJ: Rp 7,31 Triliun untuk Kombinasi Moda Transportasi Rel di Puncak

Moda transportasi berbasis rel jalur Puncak menjawab usulan dan wacana lama.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Fuji Pratiwi
Polisi melakukan penyekatan kendaraan ganjil genap di jalur wisata Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/3/2022). BPTJ merekomendasikan jenis moda transportasi berbasis rel untuk kawasan Puncak.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Polisi melakukan penyekatan kendaraan ganjil genap di jalur wisata Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/3/2022). BPTJ merekomendasikan jenis moda transportasi berbasis rel untuk kawasan Puncak.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR— Untuk mengatasi kemacetan di kawasan Puncak, Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin, lebih memilih memilih membangun Jalur Puncak 2 dibandingkan opsi moda transportasi berbasis rel. Sementara itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan, kajian awal yang dilakukan BPTJ merekomendasikan jenis moda transportasi berbasis rel yang sesuai untuk kawasan Puncak ialah kombinasi antara kereta AGT (automated guideway transit) dan kereta gantung (cabel car).

Kepala Bagian Humas BPTJ, Budi Rahardjo, menjelaskan, Kereta AGT Segmen 1 Sentul City-Taman Safari memiliki panjang 23,4 kilometer. Sedangkan Kereta Gantung untuk Segmen 2 Taman Safari-Puncak memiliki panjang 4,4 kilometer.

Baca Juga

"Jadi, tidak semata mata hanya kereta gantung saja karena kurang memenuhi aspek angkutan umum massal. Kombinasi tersebut membutuhkan pembiayaan sebesar Rp 7,1 triliun, dimana untuk kereta AGT Rp 6,32 triliun sedangkan kereta gantung sekitar hampir Rp 1 triliun," kata Budi kepada Republika, Rabu (23/3).

Budi menjelaskan, kajian yang dibuat BPTJ terkait opsi moda transportasi berbasis rel sebenarnya menjawab usulan dan wacana berbagai pihak yang sudah muncul sejak lama. Di mana sudah ada permintaan adanya transportasi berbasis rel untuk mengurangi kemacetan di kawasan Puncak. 

Dengan kajian yang dilakukan pada 2021, Budi menegaskan, tersaji jawaban berbasis data yang lebih kongkret tentang konsekuensi-konsekuensi yang timbul. Jika transportasi berbasis rel diinginkan dibangun di kawasan Puncak. 

"Jadi, sejak mula memang transportasi berbasis rel hanyalah salah satu opsi, tentu nantinya perlu dipertimbangkan lebih mendalam opsi mana yg paling memungkinkan membantu mengatasi masalah kemacetan Puncak," jelasnya.

Direktur Prasarana BPTJ, Jumardi, menambahkan wisatawan yang akan ke kawasan Puncak dapat mengakses moda transportasi massal berbasis rel mulai dari Sentul City, untuk menghindari kemacetan karena penggunaan kendaraan pribadi. 

Sedangkan lintasan Segmen 2 antara Taman Safari-Puncak yang menggunakan Kereta Gantung, lebih melayani wisatawan yang sudah berada di kawasan Puncak yang kemudian menginginkan wisata lanjut ke wilayah sekitar Puncak.

"Kalau melihat para wisatawan yang ke Puncak itu biasanya membawa banyak barang, sebab mereka umumnya menginap satu hingga dua malam beserta kerabat atau teman. Ini lebih tepat dilayani dengan Kereta AGT yang memungkinkan membawa barang, sementara Kereta Gantung tidak memungkinkan untuk itu," ujar Jumardi. 

Sebelumnya, diberitakan Bupati Bogor, Ade Munawaroh Yasin menilai anggaran untuk moda transportasi rel di kawasan Puncak terlalu mahal. Ia pun tetap berpegang teguh untuk membangun Jalur Puncak 2.

"(Dana Rp 7,31 triliun) kemahalan kalau menurut saya. Lebih baik Jalur Puncak 2 saja selesaikan," kata Ade Yasin kepada awak media, kemarin.

Untuk mengatasi kemacetan Puncak, Ade Yasin mengatakan, pembangunan Jalur Puncak 2 yang akan membentang di lima kecamatan di Kabupaten Bogor, mulai dari Citereup, Babakan Madang, Sukamakmur, Tanjungsari, dan Cariu tidak akan mencapai Rp 7,31 triliun. Dibandingkan dengan Jalur Puncak 2, Ade Yasin mengatakan, kereta gantung dominan bisa dimanfaatkan bagi masyarakat yang

Sedangkan untuk masyarakat yang hendak pergi ke Kabupaten Cianjur atau Bandung melalui Puncak, Jalur Puncak 2 dinilainya lebih menjanjikan.

"Saya kira kalau kereta gantung untuk wisatanya saja, untuk kepentingan masyarakat yang akan menuju Bandung, Cianjur, kurang terbantu. Kalau Jalur Puncak 2 kan keluarnya di Cianjur, yang ke Bandung bisa lewat situ," ungkap Ade Yasin.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement