Senin 14 Mar 2022 12:24 WIB

Kota Malang Kembali Gelar PTM 100 Persen

Pelaksanaan PTM diharap berjalan aman dengan prokes ketat dan disiplin.

Siswa mengikuti pelajaran mewarnai saat pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 Persen hari pertama di SLB C Autis Jenjang SMA Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Senin (10/1/2022). Pelaksanaan PTM 100 persen hari pertama di sekolah tersebut dibatasi hanya 30 menit setiap jam pelajaran dan difokuskan pada kurikulum Bina Diri serta Vokasi, sementara kegiatan ekstrakurikuler yang berpotensi menimbulkan kerumunan ditiadakan.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Siswa mengikuti pelajaran mewarnai saat pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 Persen hari pertama di SLB C Autis Jenjang SMA Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Senin (10/1/2022). Pelaksanaan PTM 100 persen hari pertama di sekolah tersebut dibatasi hanya 30 menit setiap jam pelajaran dan difokuskan pada kurikulum Bina Diri serta Vokasi, sementara kegiatan ekstrakurikuler yang berpotensi menimbulkan kerumunan ditiadakan.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG--Seiring dengan terkendalinya penyebaran virus corona di wilayah Kota Malang, Jawa Timur, pemerintah daerah setempat memutuskan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen yang terhenti sejak 14 Februari 2022. Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan sekolah tatap muka pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.

"Hari ini kita memulai PTM 100 persen. PTM dilakukan bukan karena leveling PPKM, tapi berdasarkan SKB tiga menteri," kata Sutiaji di Kota Malang, Jawa Timur, Senin (14/3/2022).

Baca Juga

Sutiaji menjelaskan pelaksanaan sekolah tatap muka sebelumnya telah dilaksanakan di Kota Malang. Namun, pembelajaran tatap muka terpaksa dihentikan karena adanya lonjakan kasus konfirmasi Covid-19. Menurutnya, penghentian pelaksanaan sekolah tatap muka kurang lebih selama satu bulan tersebut mampu memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Sehingga, saat ini Pemerintah Kota Malang memutuskan untuk kembali melakukan PTM saat penyebaran Covid-19 terkendali. "Saya mempunyai asumsi, kita tuntaskan dalam waktu tiga pekan atau satu bulan. Mobilitas anak-anak kita turunkan dulu dan saat ini terlihat kebijakan pengendalian itu cukup berhasil," katanya.

Ia meyakini pelaksanaan PTM 100 persen di sekolah bisa berjalan dengan aman selama penerapan protokol kesehatan dilakukan dengan ketat dan disiplin. Selain itu, mayoritas peserta didik telah mendapatkan dua dosis vaksin. "Sudah dipastikan anak-anak kita, rata-rata sudah dua kali vaksin dan anak-anak juga senang bisa kembali ke sekolah," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 8 Kota Malang Anny Yulistyowati menambahkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan jumlah murid sebanyak 758 siswa tersebut, akan memudahkan proses belajar mengajar bagi para siswa dan guru. "PTM lebih mudah bagi para guru dan anak-anak, karena saat ada permasalahan apapun, bisa langsung ditanyakan ke guru," ujarnya.

Ia menambahkan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah tersebut, pihaknya telah menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana penerapan protokol kesehatan. Selain itu, pembersihan kelas akan dilakukan secara berkala. "Kami juga menyiapkan cadangan masker. Jadi, apabila anak-anak ada yang tidak membawa masker atau harus mengganti masker, bisa langsung diganti," tambahnya.

Pada pelaksanaan PTM 100 persen tersebut, para siswa akan memulai pelajaran pada pukul 7.15 WIB hingga 11.30 WIB. Para siswa tersebut juga diberikan waktu untuk beristirahat selama kurang lebih sepuluh menit. Dalam kesempatan itu, salah seorang siswa SMPN 8 Kota Malang kelas 7, Mahesita Ayura Hendarta (13) mengaku senang bisa kembali bersekolah luring. Selama melakukan sekolah daring, ia mengaku sulit mengerti materi yang disampaikan para guru.

"Saya senang diadakan PTM 100 persen, karena bisa bertemu dengan teman-teman dan bisa lebih mengerti materi yang disampaikan para guru. Tugas-tugas juga lebih cepat diselesaikan," ujarnya.

Selama menjalani sekolah daring satu bulan terakhir, ia merasa kurang paham dengan materi yang disampaikan oleh para guru, karena ruang untuk berdiskusi antar-siswa juga terbatas. Ia berharap penyebaran Covid-19 bisa terus dikendalikan agar tidak ada lagi sekolah daring.

"Saya memang agak khawatir karena kasus Covid-19 masih seperti ini, tapi kalau kami semua bisa menaati penerapan protokol kesehatan, kekhawatiran itu berkurang. Yang penting prokes bisa diterapkan dengan disiplin," katanya.

Di Kota Malang, hingga saat ini ada 28.034 kasus konfirmasi positif Covid-19 dengan kasus aktif sebanyak 923 kasus. Dari total kasus konfirmasi itu, 25.932 orang dilaporkan telah sembuh, 1.179 orang dinyatakan meninggal dunia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement