Kamis 24 Feb 2022 18:45 WIB

Menimbang Wacana Booster Keempat di Tanah Air

Bila ada, booster keempat disarankan diberikan bagi kelompok tertentu.

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 di Mal Alam Sutera, Tangerang, Banten, Kamis (24/2/2022). Pemerintah mengutarakan kemungkinan adanya booster dosis keempat.
Foto: Antara/Fauzan
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 di Mal Alam Sutera, Tangerang, Banten, Kamis (24/2/2022). Pemerintah mengutarakan kemungkinan adanya booster dosis keempat.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Fauziah Mursid, Dian Fath Risalah, Iit Septyaningsih

Pemerintah sudah mulai menyinggung pemberian vaksinasi dosis penguat atau booster keempat. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adi Sasmito merespons wacana tersebut dengan mengatakan fokus program vaksinasi saat ini menjangkau sasaran yang belum divaksinasi.

Baca Juga

"Tentunya program vaksinasi akan lebih berfokus menjangkau sasaran yang belum divaksinasi," ujar Wiku dalam keterangan persnya, Kamis (24/2/2022).

Wiku menjelaskan, prinsipnya vaksinasi pertama dan kedua adalah membuat orang yang belum terlindungi menjadi terlindungi. Sedangkan vaksin booster dilakukan untuk mempertahankan perlindungan pada orang yang sudah divaksin. "Di satu sisi pemerintah tetap memperhatikan orang-orang yang telah divaksin agar semakin terlindungi," katanya.

Meski demikian, Satgas mendukung apapun bentuk upaya vaksinasi untuk perlindungan kepada masyarakat. Ia pun menekankan, selain vaksinasi, yang tidak kalah penting adalah penerapan protokol kesehatan.

"Namun tetap menitikberatkan pada pentingnya penerapan protokol kesehatan yang disertai pemahaman masyarakat yang baik untuk pencegahan infeksi Covid-19 yang utama," katanya.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI cum Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pemberian dosis keempat tergantung pada manfaat apa yang diharapkan dari booster kedua tersebut. "Apakah untuk mencegah infeksi atau mencegah penyakit menjadi berat, dan juga pertimbangan pada kelompok mana akan diberikan, berbagai jenis vaksin yang ada. Sekarang ini kalau mungkin akan dipertimbangkan pemberian booster kedua maka setidaknya adalah pada kelompok khusus, misalnya petugas kesehatan, atau juga kaum lansia dan mereka yang dengan komorbid cukup berat," kata Tjandra.

Ada beberapa negara yang sudah mulai menjajagi pemberian dosis ke empat, atau booster kedua. Beberapa negara tersebut adalah Israel, Chile, Kamboja, Denmark, Swedia dan Jerman, serta beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Berdasarkan sata beberapa negara, seperti di Israel pada waktu varian Delta mendominasi menunjukkan bahwa imunitas sesudah booster yang dosis ketiga dengan vaksin mRNA ternyata memang menurun sesuai waktu. Kemudian di Inggris, imunitas yang didapat dari booster nampaknya lebih cepat menurun pada varian Omicron dibandingkan varian Delta.

Laporan lain dari Amerika Serikat, Israel, Inggris menunjukkan bahwa booster dengan mRNA akan dapat melindungi terhadap kemungkinan masuk rumah sakit sampai lima bulan terhadap varian Delta, dan sampai tiga bulan terhadap varian Omicron.

"Yang banyak diberitakan adalah data CDC Amerika Serikat yakmi untuk menghadapi varian Omicron maka efektivitas vaksin mRNA untuk mencegah seseorang masuk rumah sakit adalah 91 persen pada dua bulan pertama sesudah disuntik booster dan lalu menjadi 78 persen sesudah empat bulan disuntik booster," ungkap Tjandra.

Bahkan, di masa Omicron ini efektivitas vaksin booster untuk mencegah pasien harus berobat jalan ke Instalasi Gawat darurat adalah 87 persen, dan angka ini turun menjadi 66 persen sesudah 4 bulan disuntik booster. Ia mengatakan, ada dua pendapat tentang penurunan angka ini dan sebagian mengatakan bahwa walau turun tapi angka 78 persen masih cukup baik.

"Sementara pendapat lain mengatakan bahwa penurunan ini perlu diantisipasi dengan pemberian booster ke dua untuk kembali meningkatkan efikasinya," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement