Rabu 16 Feb 2022 15:37 WIB

Kasus Covid-19 Melonjak Tapi BOR Rendah, IDI: Masalah Waktu

Jika Covid-19 terus bertambah maka BOR di fasilitas kesehatan akan menyusul meningkat

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Gita Amanda
Tenaga kesehatan merapikan tempat tidur pasien di Ruang Isolasi Zam-Zam di RSUD Al-Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, (ilustrasi).
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Tenaga kesehatan merapikan tempat tidur pasien di Ruang Isolasi Zam-Zam di RSUD Al-Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengingatkan kasus Covid-19 kini tengah meningkat akan berdampak pada keterisian tempat tidur (BOR) di Rumah Sakit (RS). Jika jumlah kasus Covid-19 terus bertambah maka BOR di fasilitas kesehatan akan menyusul meningkat, ini hanya persoalan waktu.

Zubairi mengingatkan, kasus Covid-19 saat awal Februari 2022 yang belum terlalu banyak kemudian terus bertambah, bahkan per Selasa (15/2/2022) menembus rekor kasus  harian tertinggi selama pandemi yaitu sebanyak 57.049. Kemudian, dia melanjutkan, saat volume atau jumlah kasus Covid-19 yang semakin banyak kemudian membuat BOR di fasilitas kesehatan akan menyusul meningkat.

Baca Juga

"Itu terjadi di kota manapun, baik di luar negeri maupun Jakarta.  Jadi, ini hanya masalah waktu (BOR di RS menyusul bertambah)," kata Zubairi saat mengisi konferensi virtual bertema "Indonesia dalam Gelombang Ketiga Pandemi, Bagaimana Menghadapinya?", Rabu (16/2/2022).

Karena itu, Zubairi meminta fasilitas kesehatan harus siap siaga karena BOR akan segera terisi. Selain itu, Zubairi mengatakan, masih belum banyaknya pasien Covid-19 yang dirawat di RS karena sebagian besar tidak bergejala (OTG) atau gejala ringan. "Menurut syarat pemerintah kan pasien OTG atau gejala ringan tidak dirawat di RS. Sehingga, kasus (pasien Covid-19) yang dirawat di RS sedikit sekali," ujarnya.

 

Saat ini, Zubairi melanjutkan, lebih dari 95 persen dari total kasus Covid-19 yang tersebar di Jawa-Bali disebabkan oleh varian Omicron. Meski Omicron tidak banyak menimbulkan gejala, ia mengingatkan varian ini sangat mudah menular.

Zubairi menyebutkan potensi penularan Omicron lebih dari 20 kali lebih cepat dibandingkan varian delta. Saat ini, dia melanjutkan, lebih dari 95 persen dari total kasus Covid-19 yang tersebar di Jawa-Bali disebabkan oleh Omicron.

Tak heran, ia menyebutkan di Jakarta sudah banyak muncul klaster keluarga. Artinya, ketika satu orang terinfeksi kemudian seluruh anggota keluarga ikut tertular seperti kakek, nenek, hingga asisten rumah tangga.

"Jadi, tolong amat hati-hati kalau isolasi mandiri (isoman) di rumah," katanya.

Ia meminta syarat untuk isoman bisa dipenuhi. Misalnya di rumah ada kamar mandi di dalam kamar isolasi atau letaknya terpisah. Kemudian selalu dipastikan supaya tidak ada pertemuan dengan anggota keluarga yang lain. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement