Kamis 20 Jan 2022 13:28 WIB

Analisis Pengamat Mengapa Sumur Resapan Jakarta tak Efektif Serap Banjir

Sistem drainase di DKI dinilai perlu dilakukan rehabilitasi besar-besaran.

Kendaraan melintasi banjir yang menggenangi jalan Bungur Raya, Jakarta, Selasa (18/1/2022). Selain tingginya intensitas hujan, banjir tersebut juga disebabkan oleh sistem drainase yang buruk.
Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Kendaraan melintasi banjir yang menggenangi jalan Bungur Raya, Jakarta, Selasa (18/1/2022). Selain tingginya intensitas hujan, banjir tersebut juga disebabkan oleh sistem drainase yang buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa wilayah di Jakarta kembali dilanda banjir menyusul hujan deras yang terjadi pada Selasa (18/1/2022). Di media sosial Twitter, sejumlah netizen mempersoalkan sumur resapan yang dinilai belum optimal untuk mengurangi efek banjir.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Jakarta Nirwono Yoga mengatakan pembangunan sumur resapan di ibu kota tidak efektif menanggulangi genangan atau banjir setelah hujan mengguyur sejak beberapa hari terakhir.

Baca Juga

"Banjir yang terjadi sekarang, sekali lagi menunjukkan atau membuktikan bahwa pembangunan sumur resapan tidak efektif sama sekali dalam mengatasi genangan atau banjir lokal," kata Nirwono di Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Nirwono Yoga menjelaskan, banjir yang terjadi menunjukkan buruknya sistem drainase atau saluran air di Jakarta, karena tidak optimal pembenahannya. "Lebih baik dana sumur resapan digunakan untuk merehabilitasi seluruh saluran air kota," ucap dia.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta harus melakukan rehabilitasi besar-besaran dengan dimensi yang lebih besar dan terhubung langsung dengan situ, danau, embung, waduk (SDEW), terdekat untuk menampung air saluran.

SDEW, lanjut dia, juga harus direvitalisasi, dikeruk, diperdalam, hingga diperluas, untuk meningkatkan daya tampung air hujan dan limpasan dari saluran air sekitar. "Banjir yang terjadi sekarang menunjukkan Pemprov DKI Jakarta belum siap mengantisipasi banjir," ucapnya.

Sebelumnya, Pemprov DKI menganggarkan Rp 400 miliar untuk membuat sumur resapan dengan target 26 ribu unit pada 2021. Sedangkan pada 2022, anggaran untuk sumur resapan dicoret sebesar Rp330 miliar di Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta.

Dalam pembahasan di Komisi B DPRD DKI disepakati sebesar Rp122 miliar, tapi saat dibawa ke Badan Anggaran, nominal tersebut kembali dicoret.

Sebelumnya, pada Selasa (18/1) siang cuaca ekstrem terjadi di Jakarta menyebabkan banjir di sejumlah titik.Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, pada Rabu (19/1) hingga pukul 18.00 WIB, ada 102 Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, terjadi banjir dengan ketinggian bervariasi hingga 100 cm.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI, M Insyaf, mengatakan, banjir terjadi akibat curah hujan tinggi, rob, dan luapan kali Semongol, mengakibatkan 1.194 jiwa warga di sejumlah kelurahan di dua wilayah itu mengungsi.BPBD DKI mencatat hingga Kamis (20/1) hingga pukul 09.00 WIB, sembilan RT di Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, masih tergenang dengan ketinggian air 40 cm.

Sementara itu, Gubenur DKI Jakarta pada Rabu (19/1/2022) mengatakan banjir disebabkan oleh hujan ekstrem yang terjadi disejumlah titik.  "Kemarin curah hujan di Kemayoran tercatat mencapai 204 milimeter, di Teluk Gong 193 mm, di Pulomas 177 mm, dan Kelapa Gading 163 mm," ujarnya lewat keterangan di akun Instagram.

Curah hujan di atas 150 mm, menurut Anies, adalah kondisi ekstrem. Pasalnya, kapasitas drainase di Jakarta berkisar antara 50-100 mm. Bila terjadi hujan di atas 100 mm per hari, pasti akan terjadi genangan banjir di Jakarta.

"Jika turun hujan ekstrim hingga terjadi banjir maka prioritas Pemprov DKI Jakarta adalah memastikan warga aman dan tak ada korban jiwa," paparnya.

Kemudian memastikan semua usaha pemompaan dikerjakan agar banjir bisa surut dalam waktu maksimal enam jam setelah hujan berhenti. "Alhamdulillah, berkat kesiapan dan tanggapnya jajaran Pemprov DKI sebagian besar titik banjir kemarin sudah surut di hari yang sama."

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement