Jumat 14 Jan 2022 15:54 WIB

Enam Desa di Selaawi Garut Terdampak Banjir

Luapan air bahkan sempat menggenangi hingga atap rumah warga.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Ilham Tirta
Sejumlah rumah warga yang terdampak banjir (ilustrasi).
Foto: Republika/Bayu Adji P.
Sejumlah rumah warga yang terdampak banjir (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Sedikitnya enam desa di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, terdampak banjir akibat luapan Sungai Cikuya pada Kamis (13/1/2022), malam. Air menggegang rumah warga dengan ketinggian 30-50 sentimeter (cm).

Camat Selaawi, Ridwan Effendi, mengatakan, banjir itu diakibatkan hujan deras yang terjadi di Kecamatan Selaawi pada Kamis sejak pukul 14.00-18.00 WIB. Akibatnya, terjadi luapan air dari Sungai Cikuya. Menurut dia, sejumlah rumah warga sempat terendam luapan air sungai itu. Luapan air bahkan sempat menggenangi hingga atap rumah warga.

Baca Juga

"Air masuk ke rumah warga. Bahkan ada rumah yang posisinya rendah, di bawah, air sampai di atas kepala orang dewasa. Namun umumnya sih di bawah lutut, ketinggian air sekitar 30-50 cm," kata dia, saat dikonfirmasi Republika.co.id, Jumat (14/1/2022).

Ia menjelaskan, dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Selaawi, enam desa di antaranya terdampak banjir. Enam desa itu adalah Desa Pelitaasih, Samida, Putrajawa, Cirapuhan, Selaawi, dan Mekarsari.

Namun, dari enam desa itu tak semua wilayah terdampak. "Jadi tidak seluruh desa terendam. Relatif kecil sebenaranya yang terdampak kalau dipresentasekan dengan area desa," kata dia.

Ridwan memastikan, tak ada korban jiwa akibat kejadian itu. Namun, beberapa rumah terdampak. Pihaknya masih melakukan pendataan terkait rumah yang terdampak banjir. Ada beberapa rumah yang rusak berat dan sedang. Namun, tak ada yang sampai rusak berat.

"Data rumah terdampak masih diinventarisir. Rumah rusak berat tak ada, tapi beberapa rusak ringan dan sedang. Masih kita data," kata dia.

Ridwan mengatakan, banjir langsung surut tak lama setelah hujan reda. Saat ini, air sudah sepenuhnya surut. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di beberapa lokasi di Kecamatan Selaawi.

Titik longsor yang terparah disebut berada di permabatasan antara Kabupaten Garut dengan Sumedang. "Badan jalan kabupaten tertutup penuh. Namun titik longsornya masuk ke Sumedang. Saat ini masih dilakukan pembersihan dan mulai bisa dilintasi kembali," kata dia.

Ridwan mengimbau masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana. Sebab, curah hujan diyakini masih akan sangat tinggi hingga Februari.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat dua desa, yaitu Desa Mekarsari dan Putrajawa di Kecamatan Selaawi yang terendam banjir pada Kamis malam. Ketinggian air disebut mencapai 50 cm.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut masih mendata jumlah rumah dan fasilitas umum yang terdampak. Namun hingga Kamis malam, belum ada laporan warga yang mengungsi. Selain itu, banjir di beberapa titik berangsur surut. Meski demikian, warga diminta siap siaga jika terjadi banjir susulan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui kanal media sosial resminya @infobmkg mencantumkan wilayah Provinsi Jawa Barat (Jabar) sebagai salah satu wilayah yang masih berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang untuk 13 Januari hingga 15 Januari, mendatang. BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, angin puting beliung maupun tanah longsor.

BNPB juga menyarankan warga melakulan langkah-langkah pencegahan seperti melakukan susur sungai bersama para ahli untuk membersihkan material yang menghambat aliran air. Selain itu, pemantauan dan pemeliharaan kondisi tanggul harus terus dilakukan, serta memantau peningkatan debit air ketika wilayah pemukiman diguyur hujan lebat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement