REPUBLIKA.CO.ID, TENGERANG -- Di sebuah lahan seluas 200 meter persegi di Balai Penyuluhan Pertanian, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), puluhan varian anggur tumbuh merambat. Para warga senantiasa bertandang ke lokasi tersebut untuk mempelajari seluk beluk soal anggur, meliputi budidaya, estetika, hingga nilai ekonomisnya.
Berawal dari hobi menanam anggur, sekaligus sebagai salah satu tambahan pendapatan di tengah pandemi, sejumlah warga menginisiasi Komunitas Anggur Tangsel (KAT). Komunitas inilah yang menggerakkan kegiatan edukasi budidaya anggur di Balai Penyuluhan Pertanian Tangsel sejak Juli 2021.
Ketua Komunitas Anggur Tangsel, Roy Nurdin menuturkan, aktivitas edukasi dilakoni oleh masyarakat Tangsel yang memiliki ketertarikan pada tanaman anggur. Lambat laun, semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan mempraktikkan budidaya tanaman anggur di rumah masing-masing.
“Terlihat animo masyarakat menanam anggur tinggi. Anggota kami, yang memang rata-rata hobi menanam anggur sudah hampir 250 orang. Kalau masyarakat yang belajar bersama kami mungkin sudah mencapai ribuan orang,” ujar Roy di Tangsel, Sabtu (11/12).
Hingga saat ini, kegiatan yang digalakkan KAT, kata Roy masih bersifat swadaya. Aktivitas yang dilakukan masih disokong oleh anggota komunitas yang notabene merupakan pensiunan dengan ragam latar belakang pekerjaan, seperti sopir, satpam, polisi, guru, pengusaha, dan ASN.
Meski masih bersifat swadaya, Roy mengungkapkan komunitasnya ingin ‘meng-anggur-kan’ Tangsel atau menjadikan anggur sebagai komoditi yang dapat diperhitungkan di daerah penyangga Ibu Kota tersebut. Hal itu seiring dengan tujuan untuk memanfaatkan ruang terbuka menjadi lahan hijau untuk menghasilkan produk pertanian atau urban farming.
“Tangsel kan banyak program urban farming, cuma variannya itu-itu saja, ini bagian dari warga berkegiatan urban farming dengan varian anggur. Keinginan kami ada program dari Pemerintah Kota Tangsel untuk ‘meng-anggur-kan’ Tangsel,” tuturnya.




