Selasa 23 Nov 2021 02:43 WIB

Pemkab Lebak Promosikan Produk Badui di Plaza Komoditi

Pelaku ekonomi masyarakat Badui saat ini jumlahnya sekitar 600 perajin.

Pengunjung melakukan transaksi digital dengan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) Code di Ciboleger, Lebak, Banten, Senin (11/10/2021). Sejumlah UMKM milik warga Suku Baduy yang menjajakan pernak-pernik dan oleh-oleh khas Baduy tersebut kini telah menggunakan pembayaran digital melalui QR Code dengan tujuan untuk mendorong efisiensi transaksi.
Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Pengunjung melakukan transaksi digital dengan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) Code di Ciboleger, Lebak, Banten, Senin (11/10/2021). Sejumlah UMKM milik warga Suku Baduy yang menjajakan pernak-pernik dan oleh-oleh khas Baduy tersebut kini telah menggunakan pembayaran digital melalui QR Code dengan tujuan untuk mendorong efisiensi transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mempromosikan produk aneka kerajinan masyarakat Badui di Plaza Komoditi, Mandala, Rangkasbitung. "Kami mempromosikan kerajinan masyarakat Badui untuk membantu pendapatan ekonomi mereka," kata Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Abdul Waset di Lebak, Senin (22/11). 

Pemerintah daerah (Pemda), lanjut dia, hingga kini terus membina dan membantu promosi pelaku ekonomi masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, agar produk masyarakat adat yang tinggal di Kaki Gunung Kendeng itu memiliki kualitas yang baik sehingga bisa bersaing di pasar. Saat ini, kata dia, pelaku ekonomi masyarakat Badui yang jumlahnya sekitar 600 perajin kembali tumbuh setelah kasus Covid-19 menurun drastis.

Baca Juga

Produk aneka kerajinan masyarakat Badui di antaranya kain tenun, pakaian kampret, tas koja, madu, pernah-pernik, dan golok. Harga produk kerajinan Badui di Plaza Komoditi Rangkasbitung bervariasi mulai Rp 25 ribu hingga Rp 750 ribu. Pemerintah daerah, kata dia, juga membantu legalitas hukum produk masyarakat Badui, seperti madu dengan tercatat dari BPOM, sertifikasi halal, dan perizinan usaha rumah tangga yang diterbitkan pemerintah daerah serta memiliki barcode.

Legalitas hukum itu, lanjut dia, di antaranya menyatakan madu Badui murni alami dan tidak menggunakan zat berbahaya maupun kimia. "Kami berharap penjualan produk aneka kerajinan Badui yang ditampung di Plaza Komoditi kembali normal," katanya.

Sementara itu Kubil (45) seorang perajin Badui mengaku saat ini permintaan konsumen cenderung meningkat. Omzetnya kini naik dari sebelumnya Rp 1 juta, kini bisa mencapai Rp 20 juta/bulan. "Meningkatnya omzet itu setelah Bapak Presiden Joko Widodo memakai busana masyarakat Badui," ujarnya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement