Ahad 17 Oct 2021 11:15 WIB

Khofifah Ungkap Tiga Jurus Bangun Ketahanan Pangan

Gubernur Khofifah mendorong program diversifikasi produk pertanian.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Teguh Firmansyah
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh masyarakat terlibat aktif mewujudkan ketahanan pangan. Menurutnya, ada tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk terlibat mewujudkan ketahanan pangan.

Pertama, dengan cara memilih makanan yang sehat, lokal, dan musiman. Makanan sehat yang dimaksud adalah makanan yang bernutrisi cukup bagi individu untuk bergerak aktif dan dapat menghindari risiko penyakit.

Baca Juga

"Alhamdullilah bahwa di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Timur pada khususnya memiliki kekayaan akan sumber daya alam dengan beragam jenis pangan yang melimpah. Ini menjadi syukur kita bersama," kata Khofifah, Ahad (17/10).

Selain itu, lanjut Khofifah, langkah sederhana lain yang perlu dilakukan adalah dengan mendorong program diversifikasi pangan. Cara tersebut dilakukan untuk mengembangkan potensi sumber pangan lokal dan mengajak masyarakat untuk memahami bahwa sumber karbohidrat sangat beragam. Karbohidrat bisa diperoleh dari umbi-umbian, sukun, jagung, dan tanaman lain yang nilai gizinya setara dengan beras ataupun tepung terigu.

 

"Cara tersebut juga sebagai bagian untuk membantu masyarakat dalam mengakses makanan sehat," ujarnya.

Kedua, lanjut Khofifah, berkebun atau bercocok tanam di lingkungan rumah sendiri juga menjadi langkah sederhana mewujudkan ketahanan pangan. Cara tersebut dinilai sangat efektif, karena ketahanan pangan bisa diraih masyarakat yang memulainya dari level yang terkecil, yaitu membangun ketahanan pangan keluarga.

"Diharapkan setiap rumah tangga bisa mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki, termasuk pekarangannya dalam menyediakan makanan bagi keluarga," kata Khofifah.

Kemudian yang ketiga, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai makanan dan lingkungan dengan mengurangi limbah makanan. Termasuk mengurangi sampah makanan adalah hal yang paling sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar.  "Food waste menurut FAO, mengacu kepada makanan yang dibuang, padahal produk makanan atau produk makanan alternatif tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsums," kata Khofifah.

Apalagi kata dia, Indonesia merupakan produsen sampah makanan terbesar ke-2 di Dunia. Tigabelas juta ton makanan yang terbuang sama dengan kebutuhan pangan 11 persen orang Indonesia atau setara dengan kebutuhan 28 juta jiwa. Sementara menurut data Bappenas, perkiraan food waste Indonesia berkisar pada angka 23 juta hingga 48 juta ton per tahunnya. Konsumsi yang terbuang di Indonesia bisa mencapai 115-184 kilogram per orang dalam setahun.

"Perhitungan angka 115 hingga 184 kilogram per orang per tahun itu termasuk perhitungan dari food loss, dari sisi produksi. Mulai dari beras ditanam sampai ke piring kita," ujarnya.

Limbah makanan tersebut, kata Khofifah, dapat mengakibatkan dampak kerugian ekonomi sebesar Rp 213 triliun hingga Rp. 551 triliun per tahunnya. Bila jumlah penduduk Jawa Timur pada 2020 mencapai 40.665.700 jiwa, potensi food waste di Jatim berkisar pada 4.676.555,5 hingga 7.482.488,8 ton pertahun atau sekitar 15,59 persen hingga 20,33 persen. "Oleh karena itu diharapkan, masyarakat bisa mulai mengubah pola pikir dan kondisi saat ini dapat menyadarkan kita agar lebih bijak dalam mengelola makanan," kata Khofifah.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement