Rabu 06 Oct 2021 15:46 WIB

BRIN: Penurunan Muka Tanah Perlu Direm!

Ada tiga kota yang mengalami penurunan muka tanah cukup tinggi.

Foto udara kondisi wilayah rumah warga dan lahan pertanian tergenang banjir rob di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (22/1/2021). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menganalisa Kota Pekalongan mengalami penurunan tanah sebanyak enam centimeter pada 2020 yang disebabkan oleh faktor tanah endapan yang usianya masih tergolong muda dan pengambilan air tanah, yang berakibat sejumlah daerah di Pekalongan terdampak banjir rob.
Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA
Foto udara kondisi wilayah rumah warga dan lahan pertanian tergenang banjir rob di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (22/1/2021). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menganalisa Kota Pekalongan mengalami penurunan tanah sebanyak enam centimeter pada 2020 yang disebabkan oleh faktor tanah endapan yang usianya masih tergolong muda dan pengambilan air tanah, yang berakibat sejumlah daerah di Pekalongan terdampak banjir rob.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Profesor Riset bidang Meteorologi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan mengatakan, pengendalian laju penurunan muka tanah menjadi satu upaya penting untuk menyelamatkan Jakarta dan Pantura dari potensi tenggelam. Dari hasil penginderaan jauh menunjukkan, ada tiga kota yang mengalami penurunan muka tanah cukup tinggi yakni Pekalongan, Semarang dan Jakarta.

"Terbukti dari hasil pemetaan yang dibuat oleh Kementerian ESDM tahun 2019 dan juga beberapa kajian, ternyata hasilnya adalah penurunan muka tanah perlu direm, kalau tidak, maka terjadi kenaikan muka air laut dan dampaknya sangat besar bagi masyarakat yang ada di Pantura khususnya," kata Eddy dalam Webinar Nasional Prof Talk: Benarkah Jakarta dan Pantura Akan Tenggelam? di Jakarta, Rabu (6/10).

Eddy mengatakan, penurunan muka tanah (land subsidence) berkontribusi cukup besar menyebabkan Jakarta berpotensi tenggelam.    "Jakarta memang memiliki potensi tenggelam bukan hanya karena faktor kenaikan muka air laut memang itu sangat kecil sekitar 3 mm per tahun, yang sangat berpengaruh di Jakarta dan Pantura pada umumnya adalah penurunan muka tanah yang memang ini sudah tidak bisa dikendalikan," ujarnya.

Menurut dia, kenaikan muka air laut akibat dampak perubahan iklim "sepertinya" sulit dibendung. Sementara penurunan muka tanah bisa direm.

Eddy menuturkan, hasil penginderaan jauh menunjukkan ada tiga kota yang mengalami penurunan muka tanah cukup tinggi yakni Pekalongan, Semarang dan Jakarta. Penurunan muka tanah di Kota Pekalongan di Jawa Tengah berkisar 2,1- 11 cm per tahun, Kota Semarang di Jawa Tengah berkisar 0,9-6 cm per tahun, dan DKI Jakarta sekitar 0,1-8 cm per tahun.

Pembangunan gedung-gedung dan pengambilan air tanah yang masif dilakukan akan menyebabkan semakin turunnya muka tanah. Penurunan muka tanah juga semakin mengancam bagi daerah-daerah yang batuannya sangat muda, tanah lunak, gambut, dan endapan aluvial. 

Oleh karena itu perlu, kebijakan penggunaan air tanah. Selain itu, untuk menyelamatkan Jakarta dan Pantura, harus menekan semaksimal dan seoptimal mungkin agar tidak terjadi lagi kerusakan lingkungan di sepanjang pesisir Pantura. 

"Pembangunan tanggul raksasa hanya bersifat penanggulangan sementara. Perlu dipertimbangkan untuk menanam mangrove karena terbukti cukup efektif dalam meredam laju masuknya rob ke daratan," katanya.

Eddy mengatakan, tidak hanya Jakarta yang terancam tenggelam. Kawasan lain, khususnya Kalimantan Selatan karena tanahnya lunak dan berupa gambut juga memiliki potensi terancam tenggelam karena kenaikan muka air laut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement