Selasa 31 Aug 2021 15:03 WIB

BPBD: 40 KK Mulai Tinggalkan Pengungsian Pascagempa Touna

Masih ada warga yang tinggal di posko pengungsian pascagempa karena masih trauma

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Gempa. Ilustrasi
Foto: Reuters
Gempa. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PALU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tojo Una-Una (BPBD Touna), Sulawesi Tengah menyatakan kurang lebih 40 kepala keluarga (KK) yang mengungsi mulai meninggalkan posko pengungsian. Mereka telah kembali ke rumah masing-masing pascagempa dengan magnitudo 5,8 yang mengguncang daerah itu pada 26 Agustus 2021.

"Data sementara sekitar 40 kepala keluarga telah kembali ke rumah masing-masing setelah beberapa hari tinggal di posko pengungsian," kata Kepala BPBD Tojo Una-Una Iksan Badawi yang dihubungi dari Palu, Selasa (31/8).

Baca Juga

Enam hari setelah gempa berlalu, pihaknya telah mengimbau warga agar kembali ke rumah masing-masing mengingat situasi mulai kondusif. Meski begitu masih banyak warga hingga kini bertahan di tiga posko pengungsian yang disediakan pemerintah setempat.

Warga yang belum mau kembali ke rumah beralasan karena masih merasa trauma. Sebab gempa sempat mengguncang kabupaten itu pada Juli lalu. Gempa awal bermagnitudo 5,9 yang terjadi di siang hari dan gempa susulan magnitudo 6,2 di malam hari.

"Sebagian dari mereka mengaku masih trauma dengan kejadian ini sehingga pemerintah setempat masih mempertahankan posko pengungsian. Tempat pengungsian terbagi di tiga titik yakni rumah jabatan bupati, di Desa Labuan, dan Desa Padang Tumbuo," katanya.

Di posko pengungsian, pemerintah melalui Dinas Sosial setempat menyiapkan dapur umum untuk melayani kebutuhan makan para pengungsi. Penyiapan logistik dibantu oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana). Sebelumnya pengungsi gempa Tojo Una-Una kurang lebih 200 jiwa.

BPBD juga mengimbau masyarakat harus bijak menyerap informasi-informasi dari media sosial agar tidak menimbulkan kepanikan bagi warga lain. Ia mengingatkan informasi mengenai kebencanaan hanya bersumber dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Masyarakat jangan terpancing dengan informasi-informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang tadinya situasi mulai kondusif akhirnya terjadi simpang-siur justru memperkeruh suasana," jelas Iksan.

Meski di tengah situasi bencana, tapi warga wajib mematuhi protokol kesehatan Covid-19 khususnya mereka yang masih menempati posko pengungsian. "Di posko pengungsian disediakan tempat cuci tangan. Pemerintah juga membagikan masker kepada pengungsi termasuk menyemprot cairan disinfektan secara berkala secara teknis. Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat," papar Iksan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement