Sabtu 21 Aug 2021 10:45 WIB

Cerita Evakuasi WNI di Afghanistan: Ekstra Hati-hati

Menlu Retno sebut evakuasi WNI penuh kehati-hatian karena banyak dinamika di Kabul

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Sejumlah warga negara indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Afghanistan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (21/8/2021) dini hari. Pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi 26 WNI dari Afghanistan yang sedang dilanda krisis keamanan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Taliban.
Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Sejumlah warga negara indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Afghanistan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (21/8/2021) dini hari. Pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi 26 WNI dari Afghanistan yang sedang dilanda krisis keamanan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Taliban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Retno Marsudi menyatakan proses evakuasi warga negara Indonesia dari Afghanistan berhasil mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Sabtu (21/8) pagi. Tindakan ini dilakukan penuh kehati-hatian melihat banyak perubahan dalam prosesnya.

Perubahan pertama terjadi dengan pergantian pesawat sipil yang mulanya akan digunakan dalam proses evakuasi. Namun, kondisi di lapangan membuat pemerintah menggantinya dengan pesawat militer melalui koordinasi dengan Panglima TNI.

Baca Juga

Proses keberangkatan dari Halim pada 18 Agustus 2021 pagi hari sekitar pukul 06.00 menggunakan rute Jakarta-Aceh-Colombo-Karachi-Islamabad-Kabul. Pesawat menginap semalam terlebih dahulu di Islamabad, Pakistan.

"Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa penerbangan Islamabad-Kabul sangat pendek yaitu sekitar satu jam atau kurang dari satu jam dan pesawat dapat bergerak cepat jika kesempatan landing diberikan sewaktu-waktu," ujar Retno dalam siaran resmi yang diterima Republika, Sabtu (21/8).

 

Keputusan ini mempertimbangkan dalam proses evakuasi dalam banyak proses harus dilakukan secara paralel bukan one after another. Proses ini yang membuat banyak perubahan bisa terjadi, termasuk izin landing pesawat di Bandara Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan.

Retno mengatakan Indonesia awalnya berhasil mendapatkan slot pendaratan untuk 19 Agustus pagi sekitar pukul 04.10. Namun izin tersebut kemudian ditarik kembali dan ditunda karena ada perkembangan lapangan yang tidak kondusif.

"Perubahan yang sangat cepat menggambarkan dinamika di lapangan yang terus berubah," kata Retno.

Penundaan ini membuat pemerintah kembali mengurus izin baru dan mempersiapkan evakuasi dari 18 Agustus malam sampai 20 Agustus dini hari. Pesawat pun tetap menunggu di Islamabad selama proses berlangsung.

Baru pada 20 Agustus dini hari, diperoleh informasi izin mendarat yang baru telah diperoleh. Tim evakuasi langsung melakukan persiapan. Pesawat TNI AU berangkat menuju Kabul pada 20 Agustus sekitar pukul 04.10 dan tiba di Kabul pada 05.17.

"Rencana awal, pesawat hanya berhenti selama 30 menit. Namun kembali terjadi dinamika sehingga pesawat berada di Bandara Kabul selama kurang lebih dua jam," ujar Retno.

Pesawat TNI AU terbang dari Kabul pukul 07.10 dan tiba kembali di Islamabad pukul 08.11 waktu setempat untuk melakukan pengisian bahan bakar. Kemudian pesawat kembali terbang menggunakan rute yang sama pada saat keberangkatan.

"Dan Alhamdulillah, pesawat TNI AU sudah tiba kembali di Bandara Halim Perdana Kusuma pada pagi hari ini 21 Agustus 2021," ujar Retno.

Dalam proses ini pesawat berhasil membawa 26 orang WNI, dengan satu orang diplomat yang kurang sehat tetapi bukan karena Covid-19. Selain itu ,terdapat lima WN Filipina yang memang pemerintahnya meminta bantuan untuk ikut diangkut dalam misi evakuasi Indonesia. Ditambah terdapat dua WN Afghanistan, satu orang adalah suami dari salah satu WNI dan satu lagi adalah staf lokal perempuan yang bekerja di KBRI.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement