Sabtu 10 Jul 2021 01:00 WIB

Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman, Ini Kata Epidemiolog

Pasien yang mempunyai gejala sedang dan berat disarankan tak isolasi mandiri.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Teguh Firmansyah
Ilustrasi virus corona.
Foto: Pixabay
Ilustrasi virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak pasien Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman). Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Laura Navika Yamani menilai fenomena ini terjadi karena fasilitas kesehatan (faskes) yang sudah kelebihan kapasitas (overload)

"Memang kondisinya saat ini cukup darurat, kita lihat fasilitas kesehatan sudah overload. Kemudian kasus harian juga semakin meningkat yang kasus hariannya sampai hari ini hampir 40 ribu," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (9/7).

Baca Juga

Artinya, dia melanjutkan, penyebaran kasus masih sangat tinggi. Padahal, fasilitas kesehatan sudah penuh. Sementara banyak orang yang terpapar Covid-19 sebetulnya membutuhkan fasilitas kesehatan. Namun, kondisinya sudah overload maka mau tak mau perawatannya dilakukan di rumah.

Padahal, bisa jadi banyak pasien Covid-19 yang baru terpapar membutuhkan ruang ICU.

"Kalau hanya butuh tempat tidur kemudian diperiksa oleh dokter bisa saja dengan penambahan tempat tidur selama ini pasti bisa menampung. Tetapi kalau terkait penanganan ICU, ventilator tergantung dari ketersediaan yang ada di fasilitas kesehatan," ujarnya.

Namun, dia melanjutkan, penuhnya fasilitas kesehatan membuat banyak orang yang terinfeksi virus ini melakukan  isolasi mandiri yang jauh dari pengawasan tenaga kesehatan. Selama isolasi mandiri, karena tidak diawasi ternyata kondisinya memburuk. "Makanya kejadian meninggal dunia di rumah ini akhirnya banyak. Ini terjadi karena kasus tinggi," ujarnya.

Laura berharap pasien Covid-19 bergejala sedang dan berat jangan dipaksa untuk melakukan isolasi mandiri di rumah karena tidak akan mendapatkan pengawasan. Laura meminta lebih baik pasien Covid-19 bergejala sedang hingga berat terutama yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) ikut dalam antrean IGD rumah sakit. 

Sebab, setidaknya ada penanganan yang bisa dilakukan tenaga kesehatan terhadap pasien Covid-19 gejala sedang-berat jika terjadi sesuatu. "Misalnya memberikan oksigen atau diawasi dengan gejala yang muncul kemudian mereka mendapatkan penanganan medis dari tenaga kesehatan rumah sakit untuk memastikannya. Ini jauh lebih baik dibandingkan memaksakan diri melakukan isolasi mandiri di rumah," ujarnya.

Sedangkan pasien tanpa gejala atau bergejala ringan, dia melanjutkan, bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Kendati demikian, ia meminta pasien bergejala ini mendapatkan tambahan vitamin dari fasilitas kesehatan seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) karena bisa meningkatkan imunitas tubuh. Harapannya pasien gejala ini bisa segera pemulihan supaya tidak terinfeksi lagi.

"Jadi, sembari pasien Covid-19 tanpa gejala atau ringan ini beristirahat cukup, konsumsi makan yang sehat, dan olahraga, mereka juga dibantu suplemen," katanya.  

Selain itu, perkembangan pasien kategori ini tetap dipantau fasilitas kesehatan terdekat.Sebelumnya, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia dalam kurun waktu sebulan terakhir meningkat. Selain pasien yang meninggal selama perawatan di rumah sakit, banyak masyarakat melaporkan ratusan kematian anggota keluarga atau rekan mereka di rumah saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Koordinator Analis Twitter LaporCovid-19, Yerikho Setya Adi, mengatakan berdasarkan data diketahui sedikitnya 265 pasien Covid-19 meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Data itu dihimpun berdasarkan hasil penelusuran tim LaporCovid19 di media sosial seperti Twitter, berita online dan laporan langsung warga ke LaporCovid-19.

"Mereka meninggal dunia dalam kondisi sedang isolasi mandiri di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit. Kematian di luar fasilitas kesehatan ini terjadi hanya selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021," katanya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (3/7).

Yerikho menyebutkan, sebanyak 265 Korban jiwa tersebut tersebar di 47 Kota dan Kabupaten dari 10 Provinsi yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung, Kepulauan Riau, Riau dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, provinsi yang terekam cukup banyak mengalami kematian di luar RS adalah Jawa Barat sejumlah 97 kematian dari 11 kota/kabupaten. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement