Jumat 09 Jul 2021 22:42 WIB

Ahli: Vaksin 2 Dosis Penting untuk Lawan Varian Delta

Vaksin memberi kepercayaan diri masyarakat menghadapi pandemi Covid-19.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah
Vaksin memberi kepercayaan diri masyarakat menghadapi pandemi Covid-19.
Foto: PixaHive
Vaksin memberi kepercayaan diri masyarakat menghadapi pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vaksin memberi kepercayaan diri masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Namun, varian delta yang sangat menular telah menimbulkan ancaman baru, karena menyebar sebagai jenis virus dominan di Amerika Serikat (AS). Kondisi itu membuat pejabat kesehatan mendesak mereka yang belum divaksinasi untuk mendapatkan vaksin pertama segera.

Namun, sebuah studi memperingatkan bahwa jika sudah mendapatkan suntikan pertama vaksin Covid-19, Anda bisa berisiko tertular varian delta. Menurut laporan peer-review yang diterbitkan pada 8 Juni di jurnal Nature, varian delta dapat mengelabuhi antibodi yang dihasilkan suntikan vaksin atau infeksi alami dengan virus corona baru.

Baca Juga

Laporan tersebut juga menemukan bahwa individu yang divaksinasi lengkap, yaitu dua dosis, memiliki risiko yang relatif rendah untuk tertular jenis baru. Temuan itu mendukung penelitian lain yang diterbitkan pada 7 Juli di New England Journal of Medicine yang menemukan kekebalan protektif yang diberikan vaksin mRNA kemungkinan besar bertahan terhadap varian B.1.617.1 dan B.1.617.2 (delta).

Pakar kesehatan mengatakan hasil tersebut membuktikan bahwa vaksinasi tidak hanya penting untuk menghentikan penyebaran varian baru, tetapi vaksinasi penuh diperlukan untuk mencegah infeksi dari jenis yang sekarang dominan. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sebanyak 64,4 persen dari populasi yang memenuhi syarat di AS, atau 182.673.355 orang di atas usia 12 tahun telah menerima satu dosis vaksin pada 7 Juli. Hanya 55,6 persen yang mendapat dosis vaksin penuh.

“(Studi) benar-benar memverifikasi perlunya rejimen vaksin dua dosis penuh untuk mendapatkan efektivitas penuh vaksin melawan delta,” kata seorang dokter penyakit menular di University of California di San Francisco, Monica Gandhi yang tidak terlibat dalam studi tersebut dilansir Best Life, Jumat (9/7).

Penelitian terbaru lainnya telah membantu menjelaskan seberapa efektif vaksin saat ini terhadap varian delta. Kementerian Kesehatan Israel merilis satu studi semacam itu pada 5 Juli lalu, yang menggunakan data antara 6 Juni dan awal Juli untuk menentukan kemanjuran vaksin Pfizer turun dari 94 persen menjadi 64 persen efektif melawan infeksi Covid-19 dari variannya. Namun, vaksin Pfizer masih 94 persen efektif dalam mencegah penyakit parah selama wabah, hanya turun dari 97 persen yang ditetapkan dalam penelitian sebelumnya.

Karena beberapa daerah di AS tertinggal dalam vaksinasi, beberapa pejabat tinggi terus mendesak masyarakat memastikan mereka mendapatkan vaksinasi untuk membantu mencegah wabah virus di masa depan.

"Tolong, dapatkan vaksinasi. Ini akan melindungi Anda dari lonjakan varian delta,” ujar kepala penasihat Covid-19 Gedung Putih, Anthony Fauci.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement