Senin 28 Jun 2021 12:50 WIB

Membangun Hortikultura Indonesia

Selain pangan dan peternakan, hortikultura masih menciptakan defisit cukup besar.

Karyawan memeriksa kondisi tanaman terung (Solanum melongena) di Taman Obor Pangan Lestari (OPAL) Balitbangtan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Kamis (8/4/2021).
Foto:

Rekomendasi untuk pengembangan ke depan

Saat ini Kementerian Pertanian sedang mengupayakan pengembangan komoditas dengan program Kampung Hortikultura. Ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan dari budidaya yang dilakukan oleh petani hortikultura. Menyadari skala pengusahaan oleh petani yang kecil-kecil, maka pengembangan mulai dari registrasi sampai ke peningkatkan kualitas hasil dilakukan dalam suatu wilayah, yang dapat bersifat bukan hamparan atau hamparan.

Ini identik dengan ide pengembangan berbasis tanaman (on the plant basis), yang dulu pada saat Rusnas Buah di awal 2000-an sudah pernah dirancang namun belum pernah direalisasikan. Program ini baik karena menunjukkan kehadiran negara untuk rakyat.

Upaya lain adalah dengan memumbuhkan enterpreneurship pada pengembangan hortikultura, melalui korporasi petani dan food estate. Ini dilakukan sebagai terobosan untuk menciptakan skala ekonomi sehingga teknologi modern seperti smart farming dapat diaplikasikan.

Keduanya dapat dilakukan jika kelembagaan dan sumberdaya manusia pendukung tersedia dengan baik. Saat ini jumlah program studi dengan kompetensi pertanian mencakup hortikultura di seluruh tanah air berjumlah ratusan, dari tingkat sarjana dan pascasarjana di universitas; diploma pada sekolah tinggi atau vokasi, ditambah dengan SMK pertanian. Sumber daya manusia ini harus dioptimalkan.

Keberhasilan program pembangunan hortikultura di atas tidak terlepas dari sinergi berbagai pemangku kepentingan untuk menjamin digarapnya aspek hulu sampai hilir. Kemenko Perekonomian dan KADIN bersama-sama pelaku pentaheliks, semisal Kementerian Pertanian, Kemenkop dan UKM, BUMN, IPB, pelaku digital, perusahan penyedia input pertanian dan penyedia jasa logistik sedang mengimplementasikan model Closed Loop.  

Ini adalah skema kemitraan untuk memberikan memberikan solusi mulai dari hulu sampai terjaminnya pasar dengan kerberadaan off taker, sehingga petani mendapatkan hasil yang lebih tinggi karena penerapan teknologi dan digitalisasi. Skema ini dapat diterapkan baik pada program Kampung Hortikultura maupun Korporasi Petani.

Semua pihak harus mendukung pembangunan hortikultura, karena dapat menjadi sumber pendapatan tinggi dan cepat (cash crop) serta bernilai baik bagi lingkungan. Masih perlu didorong untuk keseimbangan nutrisi, karena konsumsi hortikultura nasional yang masih rendah dibandingkan negara sebanding atau yang lebih maju. Empat hal yaitu teknologi, pasar, pembiayaan dan pendampingan menjadi kata kunci keberhasilan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement