Senin 24 May 2021 16:41 WIB

Anies Kaji Nama Batavia untuk Menyebut Kawasan Kota Tua

Nama kota tua dinilai tidak memunculkan keunikan

Red: Nur Aini
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri) berbincang dengan Menteri BUMN Erick Thohir (kedua kanan), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (kanan), Direktur Utama PT Jakarta Tourisindo Novita Dewi (kiri), dan Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia Abdulbar M Mansoer (ketiga kiri) seusai penandatanganan perjanjian pokok tentang pembentukan perusahaan patungan pengelola kawasan Kota Tua di halaman Museum Fatahillah, Jakarta, Rabu (28/4/2021). Kolaborasi ini bertujuan untuk membangkitkan kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri) berbincang dengan Menteri BUMN Erick Thohir (kedua kanan), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (kanan), Direktur Utama PT Jakarta Tourisindo Novita Dewi (kiri), dan Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia Abdulbar M Mansoer (ketiga kiri) seusai penandatanganan perjanjian pokok tentang pembentukan perusahaan patungan pengelola kawasan Kota Tua di halaman Museum Fatahillah, Jakarta, Rabu (28/4/2021). Kolaborasi ini bertujuan untuk membangkitkan kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa menjadi destinasi wisata kelas dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan saat ini pihaknya sedang mengkaji usulan penggunaan kembali nama Batavia untuk menyebut kawasan Kota Tua yang saat ini tengah dilakukan revitalisasi. Anies menyebut alasannya usulan itu muncul karena penggunaan nama kota lama atau kota tua sering kali digunakan di seluruh dunia sehingga tidak memunculkan keunikannya.

"Malah, kemarin mau bicaranya Batavia, karena kota lama, kota baru, kota tua itu kalo dicari banyak sekali, tapi kalau Batavia cuma satu, sehingga kalau seluruh dunia dengar Batavia, ya di sini tempatnya ini. Saya minta untuk dikaji," kata Anies dalam acara Pencanangan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-494 Jakarta di Balai Kota Jakarta, Senin (24/5).

Baca Juga

Anies mengaku permintaan dikaji itu agar penamaan tempat ini bisa jadi satu nama yang unik di seluruh dunia, sama halnya ketika orang lain mendengar dengar Jakarta, maka hanya di Indonesia, tidak ada di tempat lain. Kota Tua, kata Anies, harus menjadi titik yang unik karena titik ini yang memiliki sejarah, malahan ada juga harapan agar nama-nama tempat di Jakarta dikembalikan lagi seperti dahulu. "Sehingga, orang tahu nama aslinya di tempat itu. Jadi, nanti kita kaji. Mudah-mudahan ketika kajian keluar nanti kita punya 'branding' unik di seluruh dunia," ucap Anies menambahkan.

Dalam revitalisasi Kota Tua sendiri, Anies menyebut saat ini ada kolaborasi antara BUMN, Pemprov DKI, dan swasta yang selama ini terdapat kesulitan karena jalan sendiri-sendiri. "Sekarang direncanakan jadi satu kawasan kolaborasi dengan membuat patungan. Ini nantinya memungkinkan seluruh sumber daya bekerja dengan arah yang sama, rencana induknya sama, eksekusinya sama, dan akhirnya pegiat budaya bisa berkegiatan di situ juga. Kita ingin ruang ketiga ini, jadi ruang penuh cerita sejarah dan juga tempat munculnya kreativitas kontemprer," ucap dia.

Transformasi kawasan Kota Tua dan Sunda Kelapa mulai dilakukan dengan penandatanganan dokumen perjanjian pendahuluan atau Head of Agreement antara PT Jakarta Tourisindo (Jakarta Experience Board/JXB); PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC);dan PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), beberapa waktu lalu. Kesepakatan tersebut dibuat untuk membentuk usaha patungan atau joint venture (JV) pengelolaan kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa.

Dalam revitalisasi dan pengelolaan Kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa ini, JXB, ITDC, dan PT MITJ bertindak sebagai pengelola kawasan. Tak hanya itu, PT MITJ selaku eksekutor integrasi juga akan berperan dalam mengelola transportasi terintegrasi di kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa. Selain aspek integrasi transportasi publik, PT MITJ juga fokus mengembangkan Kawasan berorientasi Transit atau TOD di Kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa.

Sebagai informasi, JXB merupakan BUMD Pemerintah DKI Jakarta yang bergerak dalam bidang industri pariwisata & perhotelan, ekonomi kreatif. Sementara, ITDC adalah perusahaan milik negara di bawah Kementerian BUMN yang bertugas mengembangkan dan mengelola kompleks pariwisata terintegrasi di Indonesia. Adapun PT MITJ merupakan perusahaan patungan antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan PT KAI (Persero) yang dibentuk sesuai arahan Presiden untuk mewujudkan transportasi terintegrasi di wilayah Jabodetabek.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement