REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Perumahan Taman Mutiara (Tamara) Parung, Bogor pada Ahad (14/3) mengadakan rapat kerja kepengurusan Forum Tamara periode 2021-2023, yang dikemas dengan model pelatihan. Pelatihan yang bertema, “Menghidupkan Nilai-Nilai Tamara (akronim dari tanggung jawab, aman, nyaman dan ramah lingkungan) dan Merancang Program Kerja”, ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan skill dalam penguatan nilai-nilai ketamaraan sehingga mereka dapat menjadi kader yang dapat mengajak dan menggerakkan masyarakat agar terlibat secara aktif dalam melakukan perubahan dan transformasi sosial.
Pelatihan ini diikuti oleh 15 orang yang terdiri dari 13 peserta dari warga Tamara dan dua trainer, yaitu Moh Shofan (trainer pendidikan karakter, dan direktur Riset Maarif Institute) dan Saepullah (dosen IIQ Jakarta).
Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Forum Tamara, Moh Shofan, yang sekaligus bertindak sebagai trainer. Imengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk merancang program kerja, serta membangun penguatan nilai tanggung jawab, kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat dengan menggunakan pendekatan Living Values Education (LVE). Upaya untuk membangkitkan semangat kepedulian dan tanggungjawab berbasis LVE ini dilakukan melalui revitalisasi nilai-nilai pribadi dan sosial yang menjadi dasar hidup bersama secara harmonis, dan saling peduli satu sama lain.
“Pelatihan ini lebih menekankan pentingnya suasana berbasis nilai dalam membangun hubungan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks pelatihan ini ada core values (nilai utama) yang menjadi prinsip dasar dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan Perumahan Taman Mutiara Parung. Nilai nilai tersebut adalah akronim dari Tamara, yakni tanggungjawab, aman, nyaman, dan ramah lingkungan. Nilai-nilai tersebut tidak mungkin terwujud tanpa adanya nilai-nilai kepedulian; sementara itu, nilai-nilai kepedulian ini juga tidak mungkin tumbuh tanpa terwujudnya nilai-nilai universal seperti perdamaian, cinta dan penghargaan”, tegas Shofan seperti dikutip dalamm rilis yang diterima Republika.co.id.
Sementara Saepullah, mengatakan bahwa pelatihan ini, sangatlah penting mengingat dalam pelatihanan ini para peserta bukan sekadar menggali nilai. “Lebih dari itu, misalnya, bagaimana berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekeliling kita, bagaimana tumbuh kesadaran positif: peduli, tanggungjawab, memahami, menghargai, menghormati. Hubungan timbal-balik antara diri kita yang berkesadaran (faktor internal) dan lingkungan luar (faktor eksternal) tak bisa diabaikan. Keduanya saling memberikan stimulus yang dapat saling mendorong bahkan saling mempengaruhi untuk melakukan tindakan yang bernilai, baik positif maupun negatif,” papar Asep.