Jumat 19 Feb 2021 18:19 WIB

KKP Tangani Puluhan Paus Pilot Terdampar di Madura 

Penyebabnya bisa getaran tektonik, badai solar atau penyakit yang menyerang paus itu

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Agus Yulianto
Asisten Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Maritim, TB Haeru Rahayu (Republika/Rakhmawaty La
Foto:

Data KKP yang dihimpun oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, ucap Haeru, mencatat kejadian terdampar terakhir pada 2016 di Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur sebanyak 32 ekor paus dengan spesies yang sama, short-finned pilot whale.

photo
Bangkai paus pilot sirip pendek terdampar di pantai di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, Indonesia, 19 Februari 2021. Puluhan paus pilot bersirip pendek terdampar di perairan dangkal di pulau Madura, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengumumkan . - (EPA-EFE/FULLY HANDOKO)
 
 

Haeru menjelaskan, penyebab terjadinya paus pilot terdampar akan didalami lebih lanjut, salah satunya melalui nekropsi yang akan dilakukan beberapa dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya dan dokter hewan dari Flying Vet Indonesia. Tim mengambil sampel sebanyak tiga ekor paus dan akan menentukan berapa ekor yang akan dinekropsi dimulai sekitar pukul 13.00 WIB.

"Dugaan sementara salah satu paus, pimpinannya, sakit sehingga rombongan paus ini mengikuti pimpinan paus pilot yang sakit dan menunggu di pinggir pantai. Secara alamiah, paus yang sakit akan ke pinggir pantai dan akhirnya mati," ungkap Haeru.

Haeru menyebut perilaku paus pilot bergerombol yang dipimpin satu pilot yang ukuran tubuhnya lebih besar.

Dari pengukuran lapangan, kata Haeru, diperoleh panjang tubuh paus pilot yang terdampar bervariasi antara 2 hingga 3,5 meter. Paus yang paling besar diidentifikasi berjenis kelamin betina dengan panjang 3,5 meter.

"Salah satu dugaan mengapa paus pilot beruaya hingga ke Selat Madura yakni dikarenakan paus sedang migrasi di perairan tropis Indonesia dan salah satu daerah ruayanya adalah Selat Madura seperti yang terjadi pada 2016," ucap Haeru.

Haeru menilai, dugaan La Nina atau gelombang besar belum bisa dikonfirmasi menjadi penyebab. Kata Haeru, gelombang saat kejadian berkisar antara 0,5-1,5 meter. Haeru menambahkan upaya yang dilakukan tim mengacu pada Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar yang diterbitkan KKP. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement