Senin 18 Jan 2021 12:59 WIB

BMKG: Banjir di Pesisir Manado Bukan Tsunami

Banjir merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem, jadi masyarakat tak perlu panik.

Rep: RR Laeny Sulistyawati/ Red: Bilal Ramadhan
Seorang nelayan memeriksa perahunya yang rusak terhempas ombak di pesisir pantai di Manado, Sulawesi Utara, Senin (18/1/2021). Ombak setinggi empat meter yang menerjang pesisir pantai Manado membawa tumpukan sampah serta merusak sejumlah lapak dan bangunan semi permanen milik warga.
Foto: Antara/Adwit B Pramono
Seorang nelayan memeriksa perahunya yang rusak terhempas ombak di pesisir pantai di Manado, Sulawesi Utara, Senin (18/1/2021). Ombak setinggi empat meter yang menerjang pesisir pantai Manado membawa tumpukan sampah serta merusak sejumlah lapak dan bangunan semi permanen milik warga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banjir pesisir yang melanda Manado Sulawesi Utara pada Ahad (17/1) bukanlah tsunami. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ini merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia, karena itu masyarakat diimbau tidak panik.

"Peristiwa naiknya air laut yang menyebabkan banjir terjadi di Pesisir Manado kemarin  merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Indonesia. Jadi, masyarakat tidak perlu panik dan tidak perlu mengungsi, tapi tetap waspada dan terus memantau serta memperhatikan update informasi cuaca terkini dari BMKG," kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Senin (18/1).

Eko menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor, antara lain angin kencang dengan kecepatan angin maksimum 25 Knot yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di Laut Sulawesi, Perairan utara Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud dan Laut Maluku bagian utara dengan ketinggian gelombang mencapai 2,5-4 meter.

Bersamaan dengan itu juga adanya pengaruh kondisi pasang air laut maksimum di wilayah Manado yang menunjukan peningkatan pasang maksimum harian setinggi 170-190 cm dari rata-rata tinggi muka air laut (Mean Sea Level/MSL) pada pukul 20.00-21.00 WITA.

Berdasarkan analisis gelombang diketahui bahwa arah gelombang tegak lurus dengan garis pantai sehingga dapat memicu naiknya air ke wilayah pesisir.

"Akumulasi kondisi di atas yaitu gelombang tinggi, angin kencang di pesisir dan fase pasang air laut maksimum yang menyebabkan terjadi kenaikan air laut sehingga mengakibatkan banjir yang terjadi di Manado," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, beberapa hari terakhir wilayah Sulawesi Utara dilanda hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan. Fenomena cuaca tersebut sebenarnya merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi terutama pada saat puncak musim hujan seperti saat ini.

"Karena itu kami mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selalu mewaspadai ancaman bahaya pesisir ketika fase pasang air laut berbarengan dengan gelombang tinggi," katanya.

Masyarakat juga diharapkan mengambil langkah antispatif terhadap potensi masuknya air laut ke daratan pada saat fase pasang air laut yang bersamaan dengan gelombang tinggi dan angin kencang. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk terus memperhatikan informasi cuaca terkini dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung dan mengikuti arahan dari BNPB/BPBD setempat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement