Senin 04 Jan 2021 14:29 WIB

Mengamankan Kedelai Impor demi Tahu Tempe

Kementan mengupayakan untuk mulai siapkan produksi pasokan kedelai dalam negeri.

Pengerajin membuat tahu di Kelompok Industri Tahu dan Tempe Sentosa Adi, Gedongkiwo, Yogyakarta, Senin (4/1). Kenaikan harga kedelai dari Rp 7 ribu menjadi Rp 10 ribu per kilogram menjadi permasalahan pengerajin tahu. Saat ini pengerajin tetap membuat tahu dengan keuntungan sangat kecil atau bahkan cukup untuk berproduksi kembali.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pengerajin membuat tahu di Kelompok Industri Tahu dan Tempe Sentosa Adi, Gedongkiwo, Yogyakarta, Senin (4/1). Kenaikan harga kedelai dari Rp 7 ribu menjadi Rp 10 ribu per kilogram menjadi permasalahan pengerajin tahu. Saat ini pengerajin tetap membuat tahu dengan keuntungan sangat kecil atau bahkan cukup untuk berproduksi kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Haura Hafizah, Dedy Darmawan Nasution, Muhammad Fauzi Ridwan, Adinda Priyanka, Antara

Menghilangnya tempe dan tahu dari pasaran selama beberapa hari terakhir membuat masyarakat Indonesia kehilangan teman makan. Tingginya harga kedelai impor menjadi sebab produsen mogok, hingga tempe dan tahu sempat menghilang dari meja makan, gerai warteg, hingga gerobak gorengan.

Baca Juga

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pemerintah harus segera bertindak untuk mengamankan pasokan kedelai impor. Pemerintah juga harus memastikan tidak ada permainan dalam tata niaga kedelai di dalam negeri. Permainan yang dimaksudnya adalah spekulasi harga atau menahan pasokan di pasar.

"Menteri Perdagangan kan bisa kontak negara produsen kedelai untuk buat perjanjian secara bilateral. Seperti lakukan swap sawit ditukar dengan kedelai. Ya kaya dulu pernah ada barter antara sawit dan suku cadang pesawat. Terus cek juga pasokan kedelai impor dan dalam negeri seperti apa. Jangan sampai situasi naiknya harga kedelai dimanfaatkan oleh para spekulan dengan tahan stok impor," katanya saat dihubungi Republika, Senin (4/1).

Kemudian, ia menjelaskan terdapat faktor kenaikan harga kedelai bisa terjadi. Hal ini dimulai dari pasokan yang terbatas dari Argentina dan Brazil disebabkan faktor cuaca, stok Amerika Serikat (AS) pun terus menipis. Sementara dari sisi permintaan terjadi kenaikan yang signifikan dari China pascapemulihan ekonomi dari Covid-19.

China menguasai 64 persen dari total permintaan kedelai global. Ketika ekonomi pulih, daya beli masyarakat China membaik permintaan kedelai impor juga tinggi. Kedelai banyak digunakan di China untuk pakan ternak.

Lalu, kenaikan harga bahan baku tempe dan tahu tentu akan memukul kelas menengah kebawah di Indonesia. Secara umum tempe dan tahu jadi kebutuhan protein penting. Apalagi dalam kondisi resesi ekonomi dan angka kemiskinan yang naik.

"Biasanya mereka membeli telur, ayam dan daging sapi bergeser untuk membeli tempe dan tahu. Kalau sampai naik tinggi harganya di pasaran dan produsen tempe dan tahu berhenti produksi itu sangat berisiko bagi ekonomi masyarakat," kata dia.

Maka dari itu, pemerintah harus memiliki langkah jangka panjang. Ini penting untuk mendorong produktivitas dan luasan lahan kedelai dalam negeri. Masalah naiknya harga kedelai jadi pelajaran penting, dalam jangka panjang ketergantungan terhadap kedelai impor harus dikurangi signifikan.

"Bantuan pemerintah dan inovasi pangan jangan hanya fokus ke beras tapi juga kedelai lokal. Sehingga tidak ada lagi nanti kenaikan harga kedelai seperti ini," kata dia.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan produksi kedelai dalam negeri harus dipacu untuk pemenuhan kedelai domestik ke depannya agar dapat dipenuhi secara mandiri. Pasalnya, kebutuhan kedelai setiap tahunnya makin bertambah.

"Kondisi ini menyebabkan pengembangan kedelai oleh petani sulit dilakukan. Petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar. Tapi kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya. Program aksi nyatanya kami susun dan yang terpenting hingga implementasinya di lapangan," kata Syahrul di Jakarta, Senin (4/1).

Syahrul mengatakan, permasalahan kedelai saat ini dipicu oleh persoalan global sehingga membuat harga kedelai yang ada secara global itu terpengaruh khususnya dari Amerika Serikat. Menurutnya, masalah serupa tak hanya di Indonesia, namun juga di Argentina yang menjadi konsumen kedelai impor.

Karena itu, Syahrul menuturkan Kementan fokus melipatgandakan produksi atau ketersediaan kedelai dalam negeri. Produksi kedelai dalam negeri harus bisa bersaing baik kualitas maupun harganya melalui perluasan areal tanam dan mengenergikan para integrator, unit-unit kerja Kementan dan pemerintah daerah.

"Tentu dengan langkah cepat dari Kementan bersama berbagai integrator dan pengembang kedelai yang ada kita lipatgandakan dengan kekuatan. Kita bergerak cepat, sehingga produksi kedelai dalam negeri meningkat," imbuh Syahrul.

Kendati demikian, Syahrul menuturkan belum dapat menjanjikan seberapa besar produksi yang bisa dihasilkan untuk bisa menambal kebutuhan kedelai impor yang tengah mengalami kenaikan harga. "Saya tidak mau bicara angka, tapi dengan langkah cepat Kementan hari ini bersama integrator dan pengembangan kedelai kita coba lipat gandakan (produksi)," ujarnya.

Menurut Syahrul, dalam satu kali pertanaman setidaknya dibutuhkan 100 hari hingga panen. Syahrul menargetkan bisa melakukan dua kali musim tanam agar ketersediaan bisa lebih besar dan digunakan pengrajin tahu tempe.

"Paling penting ketersediaannya, bukan hanya harga. Tentu saja bekerja sama dengan kementerian lain. Kedelai lokal harus menjadi kekuatan kita," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement