Senin 30 Nov 2020 09:59 WIB

Ulama dan Kekuasaan: Bagaimana Petunjuk Alquran?

Polemik kekuasaan dan ulama lestari sepanjang zaman

Serdadu Belanda menangkapi para ulama dan haji yang dituduh sebagai biang pengobar pemberontakan Petani Banten pada 1888. Ulama kala itu mewakili suara rakyat kecil yang hidupnya sangat sengsara karena terjadi keidakadian sosial yang dibuat oleh kolonial.
Foto: historia
Serdadu Belanda menangkapi para ulama dan haji yang dituduh sebagai biang pengobar pemberontakan Petani Banten pada 1888. Ulama kala itu mewakili suara rakyat kecil yang hidupnya sangat sengsara karena terjadi keidakadian sosial yang dibuat oleh kolonial.

REPUBLIKA.CO.ID, -- Oleh: Dr. Anwar Mujahidin, Dosen Ilmu Tafsir IAIN Ponorogo

Beberapa minggu terakhir setelah kepulangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air, menguat wacana adanya gangguan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahkan ada yang eksplisit menyebutkan adanya ancaman terhadap pemerintahan yang sah.

Tudingan tudingan tersebut patut diduga kuat dialamatkan kepada kelompok keagamaan tertentu, karena kemudian menguat wacana hubungan agama dan kekuasaan. Bahkan banyak pihak termasuk tentara ikut berkomentar bagaimana seorang ulama seharusnya memerankan diri.   

Banyak sudut pandang yang bisa disodorkan untuk menyoroti bagaimana hubungan agama dan kekuasaan dan bagaimana ulama seharusnya memerankan diri dalam konstelasi kehidupan kebangsaan. Di antara sudut pandang tersebut, tinjauan normatif terhadap kitab suci  umat Islam, sudah selayaknya dilakukan karena ia merupakan rujukan primer untuk medapat pencerahan, bagaimana ayat-ayat al-Qur`an mengajarkan hubungan dengan kekuasaan. Apakah mengingatkan penguasa pemerintahan bukan tugas ulama? Apakah ulama harus selalu bersikap lembut?

Ternyata kalau kita tinjau dalam al-Qur`an banyak sekali ditemukan ayat-ayat tentang pemerintahan terutama berwujud kisah-kisah para nabi yang diperintah untuk menghadapi rezim yang berkuasa, sebut saja Ibrahim dengan Namrud, Sulaiman dengan Ratu Balqis, Musa dengan Fir`aun , Dawud dengan Jalut dan tentu Nabi Muhammad saw dengan Abu Jahal pemimpin suku Quraish.      

Kisah yang paling fenomenal berkaitan dengan tugas kenabian dan penguasa pemerintahan adalah kisah Musa. Kisah Musa termasuk kisah yang mendominasi surat surat al-Qur`an karena tersebar dalam 33 surat al-Qur`an. Sebagian di ataranya adalah kisah yang diulang-ulang yaitu episode Musa menghadapi Fir`aun.  Perintah Tuhan agar Musa menghadapi Fir`au di antaranya terdapat dalam surat al-A`raf ayat  103 dan al-Qashash ayat 32. 

Musa sebenarnya merasa berat ketika diberi mandat untuk menghadapi Fir`aun. Wahyu Tuhan kepada Musa diturunkan ketika Musa masih dalam perjalan kembali ke Mesir tempat Fir`aun berkuasa setelah sekian tahun mengasingkan diri.

Musa pada awalnya tidak sengaja membunuh seseorang yang satu suku dengan Fir`aun, karena niat awal Musa adalah melerai dua orang yang sedang bertikai. Karena Musa mendapat informasi akan mendapat hukuman mati, maka Musa melarikan diri keluar Mesir.

Maka ketika Musa selesai dari pengasingan dan mendapat tugas menghadapi Fir`aun, Musa menyampaikan kekhawatirannya kepada Tuhan kalau Fir`aun akan menhukumnya dengan hukum mati karena kesalahan yang pernah ia perbuat.

Tuhan kemudian mengutus Harun untuk membantu Musa, karena Harun lebih fasih lisannya untuk berargumentasi dihadapan Fir`aun dan para pembesar kerajaanya. Musa juga dibekali serangkaian mukjizat sebagai kekuatan dan bukti bahwa ia utusan Allah.

Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah menyampaikan catatan mengenai pilihan kata ba’atsanā yang digunakan dalam surat al-A`raf ayat 103 yang berarti Kami mengutus (memberi mandat Musa untuk menghadapi Fir`aun). Quraish Shihab merujuk kepada al-Sya’rāwi yang menyatakan bahwa kata tersebut dipahami sebagai isyarat adanya fitrah yang melekat pada diri setiap insan.

Keimanan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama Adam as. karena Allah yang menciptakanya secara langsung dan menugaskannya secara langsung pula.

Dengan demikian, Allah mengutus seorang nabi, tidak untuk menciptakan akidah baru, tetapi sekadar membangkitkan dan menghidupkan atau memunculkan kembali apa yang telah ada terpendam dalam diri setiap insan.

Para Nabi diutus dalam rangka membangkitkan apa yang terpendam dan meluruskan apa yang menyimpang itu. Tugas kenabian dan para pewarisnya adalah mengingatkan apa yang semestinya diperbuat oleh manusia yang itu sudah menjadi fitrah manusia.  

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement