Jumat 30 Oct 2020 15:39 WIB

Okupansi Hotel Yogyakarta Capai 95 Persen

Libur panjang berdampak ke kepadatan di kawasan wisata Yogyakarta.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Indira Rezkisari
Papan informasi tentang Covid-19 dipasang di pintu masuk Gembiraloka Zoo, Yogyakarta, Jumat (30/10). Libur panjang Oktober ini, Gembiraloka Zoo menjadi salah satu destinasi wisata favorit wisatawan. Namun, meski pengunjung naik hampir dua kali lipat, pengelola membatasi 2.000 orang saat kunjungan. Dan juga dengan protokol kesehatan Covid-19 dan pengawasan petugas di lapangan dengan ketat.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Papan informasi tentang Covid-19 dipasang di pintu masuk Gembiraloka Zoo, Yogyakarta, Jumat (30/10). Libur panjang Oktober ini, Gembiraloka Zoo menjadi salah satu destinasi wisata favorit wisatawan. Namun, meski pengunjung naik hampir dua kali lipat, pengelola membatasi 2.000 orang saat kunjungan. Dan juga dengan protokol kesehatan Covid-19 dan pengawasan petugas di lapangan dengan ketat.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepadatan wisatawan di Kota Yogyakarta mulai terjadi saat libur panjang akhir Oktober 2020 ini. Okupansi hotel di Kota Yogyakarta mencapai 95 persen dari kapasitas yang disediakan. Terutama hotel di sekitar kawasan wisata.

"Memang selama liburan ini ada peningkatan dan ada kepadatan wisatawan yang cukup (besar)," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi melalui pesan tertulisnya, Jumat (30/10).

Baca Juga

Kepadatan tampak di kawasan Malioboro, Taman Sari dan destinasi wisata lainnya di Kota Yogyakarta. "Wisatawan banyak yang berlibur ke Yogya. Kawasan Malioboro, Taman Sari dan destinasi wisata lainnya, termasuk kuliner dan sebagainya dilaporkan memang penuh," ujar Heroe.

Walaupun ada peningkatan kunjungan wisatawan di tengah pandemi Covid-19, pihaknya tetap melakukan pengawasan terkait pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sanksi pun diberlakukan bagi wisatawan, pelaku usaha maupun warga Kota Yogyakarta yang tidak menjalankan protokol kesehatan.

"Harapan kami, semua protokol kesehatan tetap dijalankan. Dan saya yakin, semua punya komitmen untuk menjalankan itu," jelasnya.

Ia juga meminta kepada pengelola destinasi wisata untuk mengatur kepadatan pengunjung. Yaitu dengan hanya menyediakan kapasitas kunjungan sebesar 50 persen atau dilakukan pembatasan seperti di Malioboro.

Di Malioboro sendiri diberlakukan sistem pemindaian QR code dan zonasi. Ada lima zona di kawasan Malioboro, yang mana per zona hanya dapat diisi paling banyak 500 pengunjung dalam satu waktu.

"Saya kira semua pelaku wisata sudah paham tentang hal itu. Hanya saja, ketika ada pembatasan kapasitas di dalam area destinasi, biasanya ada penumpukan pada antreannya. Yaitu pengunjung yang ada di luar yang belum masuk, maka saya minta juga membuat aturan tentang tata cara mengelola antrean," katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan kapasitas hotel dan resto yang disediakan di masa libur panjang ini sebesar 70 persen. Pihaknya menargetkan okupansi sebesar 80 persen dari kapasitas yang disediakan selama liburan panjang.

"Angka reservasi wisatawan yang sudah masuk di seluruh hotel anggota PHRI DIY sejak 27 Oktober, rata-rata berkisar 60 persen. Targetnya reservasi itu bisa meningkat menjadi 80 persen sampai libur cuti bersama ini habis 1 November," kata Deddy.

Di mas pandemi ini, hotel di bawah naungan PHRI DIY yang beroperasi hanya 142 hotel. Sementara, total ada 400 lebih hotel yang ada di bawah naungan PHRI DIY.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement